ITNYITNY

KURVATEKKURVATEK

Perencanaan tata ruang wilayah memerlukan data-data yang akurat sesuai dengan skala perencanaannya. Salah satu kendala yang ditemui dalam analisis rencana tata ruang di Indonesia adalah belum tersedianya beberapa data dasar yang memiliki tingkat kedetilan sesuai dengan kebutuhan perencanaan, termasuk data geologi. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten mensyaratkan semua peta yang dihasilkan berada pada tingkat kedetilan Skala 1:50.000, sedangkan ketersedian Peta Geologi Skala 1:50.000 dari Kementerian ESDM masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan data distribusi geologi permukaan beserta karakteristiknya yang dibutuhkan dalam perencanaan tata ruang dengan pendekatan analisis morfologi. Analisis morfologi detil dilakukan dengan mengolah data Digital Elevation Model dengan resolusi spasial 8 meter. Pendetilan klasifikasi morfologi dilakukan pada klasifikasi Bentuk Muka Bumi. Interpretasi morfologi dilakukan secara bertahap dengan membagi permukaan lahan dari general menuju detil menghasillkan kelas perbukitan tinggi berigir memanjang, perbukitan rendah berigir memanjang, lembah bergelombang antar perbukitan dan dataran. Interpretasi landform dilakukan dengan menambahkan data struktur geologi dan jenis batuan dalam analisis menghasilkan kelas landform perbukitan tinggi memanjang zona sesar, perbukitan rendah memanjang zona sesar, lembah bergelombang antar perbukitan zona sesar, dan dataran alluvial. Satuan Landform perbukitan memanjang zoan sesar dapat didetilkan berdasarkan pola relief serta kemiringan lerengnya menjadi igir, lereng curam, dan lereng landai. Perbukitan rendah memanjang zona sesar dapat dibagi menjadi igir dan lereng landai. Sedangkan lembah bergelombang antar perbukitan zona sesar dan dataran alluvium tidak menunjukkan adanya variasi lebih lanjut. Satuan batuan breksi andesit merupakan litologi pembentuk morfologi perbukitan berigir memanjang, lembah bergelombang antar perbukitan terbentuk dari satuan batuan koluvium breksi andesit, sedangkan dataran alluvial terbentuk dari satuan batuan alluvium. Pembagian morfologi detil pada perbukitan mencerminkan perbedaan karakteristik derajat pelapukan batuannya serta karakteristik material pelapukan. Satuan batuan breksi andesit pada igir mengalami pelapukan kuat dan menghasilkan material tanah insitu yang banyak. Batuan dasar breksi andesit yang tersingkap di lereng curam mengalami pelapukan tahap awal dengan endapan tanah yang tipis di atasnya serta memiliki beberapa bongkah andesit yang terendapkan di tekuk-tekuk lerengnya. Lereng landai memiliki satuan batuan permukaan yang didominasi oleh material kolluvium. Satuan ini terdiri dari bongkah-bongkah breksi andesit yang tersebar di permukaan bercampur dengan material tanah lapuk hasil pelapukan dari igir dan/atau lereng curam. Lembah bergelombang antar perbukitan juga memiliki karakteristik satuan batuan permukaan yang terdiri dari bongkah-bongkah breksi andesit di permukaan lahan dengan tanah yang tebal hasil akumulasi tanah pelapukan dari perbukitan. Satuan batuan alluvium pada dataran alluvial tidak mencerminkan variasi yang berarti.

Data DEM dengan resolusi 8 m dapat menghasilkan interpretasi morfologi detail yang akurat, sehingga memperjelas batas unit litologi pada perbukitan memanjang zona sesar.Analisis menunjukkan bahwa kelas morfologi (igir, lereng curam, dan lereng landai) mencerminkan perbedaan derajat pelapukan dan proses eksogen seperti erosi, transportasi, dan sedimentasi.Material perbukitan berasal dari vulkanisme Gunungapi Purba Gajahmungkur, dengan igir mengalami erosi intensif, lereng curam menunjukkan transportasi batuan, dan lereng landai serta lembah antar perbukitan mengalami sedimentasi menghasilkan tanah yang tebal.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi penggunaan data DEM dengan resolusi lebih tinggi seperti LiDAR untuk meningkatkan akurasi klasifikasi morfologi pada skala <10 m, sehingga memungkinkan identifikasi detail mikro‑landform yang tidak terdeteksi pada DEM 8 m. Selain itu, analisis perubahan morfologi temporal dengan membandingkan DEM multitemporal dapat memberikan pemahaman lebih mendalam tentang laju erosi, transportasi, dan sedimentasi di wilayah perbukitan zona sesar. Selanjutnya, integrasi data geofisika seperti survei seismik atau resistivitas tanah dapat memperkuat hubungan antara unit morfologi permukaan dan struktur geologi bawahnya, sehingga memperbaiki interpretasi litologi. Penelitian juga dapat memperluas wilayah studi ke daerah lain dengan kondisi tektonik dan vulkanik berbeda untuk menguji keuniversalan metodologi analisis morfologi detil yang telah dikembangkan. Akhirnya, pengembangan model berbasis machine learning yang memanfaatkan variabel DEM, relief, dan roughness dapat otomatisasi identifikasi kelas landform, meningkatkan efisiensi pemetaan geologi untuk perencanaan tata ruang.

Read online
File size620.81 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test