IJHPIJHP

International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP)International Journal of Health and Pharmaceutical (IJHP)

Transformasi urbanisasi masif di Kota Surabaya telah memicu perluasan komersial gerai makanan cepat saji, menciptakan lingkungan obesogenik, sekaligus mengancam keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang penting untuk kesehatan kardiovaskular, termasuk hipertensi. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara deskriptif korelasi spasial antara distribusi RTH dan aksesibilitas gerai makanan cepat saji terhadap prevalensi kasus hipertensi di Kota Surabaya pada tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode analisis spasial deskriptif pada unit analisis kecamatan di Kota Surabaya. Data sekunder tentang luas RTH, Profil Kesehatan, dan koordinat gerai makanan cepat saji dari OpenStreetMap dianalisis menggunakan teknik overlay dan pemetaan chloropath melalui perangkat lunak QGIS 3.34.3. Hasil analisis menunjukkan disparitas spasial yang signifikan. Kecamatan Sukolilo dan Rungkut memiliki paparan tinggi terhadap gerai makanan cepat saji, tetapi kasus hipertensinya terkendali karena seimbang dengan luas RTH terbesar. Sebaliknya, daerah hotspot hipertensi tinggi (12-26%) diidentifikasi di Kecamatan Semampir, Pabean Cantian, dan Karang Pilang, yang memiliki ketersediaan RTH sangat kritis (0-5.542 m²). Ada ketidakseimbangan dalam distribusi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kluster restoran makanan cepat saji yang secara tidak langsung berkorelasi dengan disparitas dalam prevalensi kasus hipertensi antara kecamatan di Kota Surabaya pada tahun 2024.

Berdasarkan hasil analisis spasial deskriptif, disimpulkan bahwa terdapat ketidakseimbangan dalam distribusi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan kluster restoran makanan cepat saji yang secara tidak langsung berkorelasi dengan disparitas dalam prevalensi kasus hipertensi antara kecamatan di Kota Surabaya pada tahun 2024.Dampak dari penelitian ini mengonfirmasi bahwa intervensi kesehatan masyarakat di Kota Surabaya tidak dapat lagi digeneralisasi sehingga disarankan untuk menerapkan intervensi berbasis wilayah.

Berdasarkan temuan dan analisis dalam penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan: Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam tentang hubungan antara lingkungan obesogenik dan prevalensi hipertensi di Kota Surabaya. Penelitian ini dapat mengeksplorasi faktor-faktor lingkungan lainnya yang berkontribusi terhadap perilaku obesogenik dan dampaknya pada kesehatan masyarakat. Kedua, penting untuk menganalisis efektivitas intervensi lingkungan dalam mengurangi prevalensi hipertensi. Studi ini dapat mengevaluasi dampak dari peningkatan aksesibilitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan strategi intervensi lainnya terhadap perilaku fisik masyarakat dan kesehatan kardiovaskular mereka. Ketiga, penelitian lanjutan dapat berfokus pada pengembangan strategi intervensi yang lebih terintegrasi dan holistik. Studi ini dapat mengusulkan pendekatan yang menggabungkan perencanaan kota, kebijakan kesehatan, dan partisipasi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan kardiovaskular dan mengurangi disparitas dalam prevalensi hipertensi antara wilayah di Kota Surabaya.

Read online
File size269.93 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test