UWHSUWHS

Jurnal Fisioterapi dan RehabilitasiJurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi

Fraktur burst terjadi akibat tekanan langsung pada corpus vertebralis, sehingga menyebabkan tulang hancur dan fragmen tulang berpotensi terdorong masuk ke dalam kanalis spinalis, umumnya disebabkan trauma dengan beban yang tinggi seperti jatuh dari ketinggian dan kecelakaan kendaraan bermotor. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui manajemen fisioterapi terhadap gangguan fungsi gerak dan aktivitas fungsional berupa nyeri, muscle weakness, limitasi activity daily living et causa post op stabilitas posterior. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin sejak 06 September – 12 Oktober 2024. Pasien yang diambil oleh peneliti merupakan pasien post-op stabilitas posterior yang bernama Tn. BI dengan usia 26 tahun yang merupakan seorang petani cengkeh. Pasien mengeluhkan nyeri tidak menjalar pada area post operasi, dan keram pada kedua kaki. Pasien dioperasi stabilitas posterior tanggal 2 september setelah terjatuh dari pohon cengkeh setinggi 10 meter. pasien diberikan intervensi fisioterapi untuk mengatasi nyeri, muscle weakness, hiposensasi L5 – S1, limitasi ROM, gangguan pola napas dan limitasi ADL. Assesment yang dilakukan adalah anamnesis pasien, inspeksi, pengukuran ROM, pengukuran nyeri (VAS), pengukuran MMT, tes sensorik dan circumferentia. Intervensi yang diberikan berupa NMES, Static contraction, Exercise Therapy, Core Strenghthening, ADL Exercise, Proprioseptif Exercise, Strengthening Exercise. Pasien juga diberikan home program agar dapat melakukan latihan mandiri di rumah.

Pasien pasca operasi stabilisasi posterior umumnya mengalami gangguan gerak dan fungsi seperti nyeri, kelemahan otot, hiposensasi, dan keterbatasan ROM, yang berdampak pada aktivitas sehari-hari.Program fisioterapi yang terencana, mencakup intervensi seperti NMES dan berbagai latihan spesifik, terbukti penting dan efektif dalam menangani masalah ini.Hasil evaluasi menunjukkan penurunan nyeri serta peningkatan kekuatan otot dan rentang gerak, menegaskan bahwa fisioterapi berperan vital dalam rehabilitasi pasca operasi untuk mengembalikan fungsi dan kualitas hidup pasien.

Melihat hasil positif penanganan fisioterapi pada kasus ini, ada beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat memperkaya pemahaman kita. Pertama, akan sangat berguna untuk melakukan penelitian perbandingan dalam skala yang lebih besar, misalnya dengan melibatkan banyak pasien, untuk melihat apakah jenis program fisioterapi yang berbeda atau kombinasi terapi tertentu lebih efektif dalam membantu pasien pasca operasi stabilisasi tulang belakang. Studi ini bisa membandingkan berbagai jenis latihan, alat bantu listrik, atau berapa lama dan sering terapi dilakukan, agar kita bisa menemukan cara terbaik untuk mengurangi nyeri, menguatkan otot, dan mengembalikan kemampuan gerak. Kedua, penting juga untuk meneliti bagaimana hasil terapi ini bertahan dalam jangka panjang. Penelitian selanjutnya bisa mengikuti pasien-pasien ini selama berbulan-bulan atau bahkan setahun untuk melihat apakah kemampuan gerak dan aktivitas sehari-hari mereka tetap membaik, serta faktor apa saja yang mendukung pemulihan jangka panjang. Ketiga, karena penelitian ini hanya berfokus pada satu pasien, penelitian di masa depan perlu melibatkan lebih banyak orang dengan kondisi, usia, dan latar belakang yang berbeda. Dengan begitu, kita bisa memastikan apakah program fisioterapi ini juga efektif untuk berbagai jenis pasien, sehingga hasilnya bisa dijadikan panduan yang lebih kuat bagi tenaga medis.

  1. Manajemen Fisioterapi Pada Post-Op Stabilisasi Posterior: Laporan Kasus | Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi.... jurnal-d3fis.uwhs.ac.id/index.php/akfis/article/view/517Manajemen Fisioterapi Pada Post Op Stabilisasi Posterior Laporan Kasus Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi jurnal d3fis uwhs ac index php akfis article view 517
Read online
File size702.3 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test