IJCIEDIJCIED

INTERNATIONAL JOURNAL OF CONTEMPORARY ISLAMIC EDUCATIONINTERNATIONAL JOURNAL OF CONTEMPORARY ISLAMIC EDUCATION

Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai Islam kepada siswa. Namun, praktiknya seringkali tidak dikaitkan dengan realitas sosial dan budaya lokal yang melekat pada kehidupan mereka. Integrasi unsur budaya lokal ke dalam materi PAI dapat membuat pembelajaran lebih kontekstual, bermakna, dan dekat dengan kehidupan sehari‑hari siswa. Budaya lokal yang kaya akan nilai moral seperti kerja sama, toleransi, kesopanan, dan tanggung jawab dapat menjadi titik masuk dalam menyampaikan konsep Islam. Penelitian ini membahas pentingnya integrasi budaya lokal sebagai sarana memperkuat nilai Islam, serta menggali strategi pedagogis dan faktor pendukung serta hambatan yang mempengaruhi pelaksanaannya di SMP Budi Mulia.

Penelitian ini menemukan bahwa proses internalisasi nilai Islam di SMP Budi Mulia masih didominasi pendekatan tekstual yang kurang terhubung dengan konteks budaya lokal.Integrasi unsur budaya lokal—seperti tradisi tahlilan, gotong royong, unggah‑ungguh, dan marawis—diterapkan dalam materi PAI, meningkatkan pemahaman siswa dan memperkuat identitas islami mereka.Faktor pendukung seperti dukungan kepala sekolah dan antusiasme siswa berperan serta, sementara hambatan utama adalah kurangnya pelatihan guru, keterbatasan waktu, dan minimnya materi pembelajaran.

Pertama, penelitian dapat meneliti dampak jangka panjang integrasi budaya lokal terhadap perkembangan karakter siswa, apakah nilai-nilai Islam yang dikuasai melalui konteks budaya tetap melekat setelah lulus SMP. Kedua, perlu dikembangkan model pelatihan guru khusus yang fokus pada strategi integrasi budaya yang melibatkan pembuat kurikulum, praktisi pendidikan, dan tokoh masyarakat serta memantau efektivitasnya secara sistematis. Ketiga, studi komparatif dapat dilakukan dengan sekolah lain di wilayah yang berbeda untuk mengukur keuniversalan strategi ini dan menyesuaikannya dengan karakteristik budaya setempat. Keempat, penelitian lanjutan dapat menyelidiki peran teknologi digital dalam menyajikanEnumeration of local cultural content untuk memperluas jangkauan pembelajaran dan meningkatkan interaksi siswa. Kelima, evaluasi kebijakan sekolah dan peraturan daerah dapat membantu memfasilitasi alokasi sumber daya dan waktu yang lebih besar bagi pelaksanaan integrasi budaya. Keenam, studi longitudinal perlu dilakukan untuk menilai perubahan sikap dan kebiasaan siswa seiring waktu, memperkirakan pelestarian nilai-nilai lokal. Ketujuh, tes efektivitas materi PAI yang terintegrasi dengan budaya dapat dirancang dengan indikator pencapaian kompetensi karakter yang jelas. Kedelapan, kolaborasi dengan lembaga penelitian budaya dapat memperkaya pengetahuan tentang nilai-nilai lokal yang relevan. Kesembilan, pengembangan materi pembelajaran berbasis proyek dapat mengkilasi praktik kolaboratif antara guru dan siswa untuk menghasilkan karya seni atau digital yang mengekspresikan nilai Islam melalui budaya lokal. Kesepuluh, pengabdian masyarakat dapat dilaksanakan untuk mengajarkan nilai PAI kuse melalui kegiatan lokal seperti tahlilan atau gotong‑royong, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab komunitas terhadap pendidikan karakter.

Read online
File size549.61 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test