UMNUMN

Ultima Accounting : Jurnal Ilmu AkuntansiUltima Accounting : Jurnal Ilmu Akuntansi

Penelitian ini menyelidiki premi berkelanjutan pada obligasi yang diterbitkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi hasil (yield) obligasi berkelanjutan tersebut. Premi berkelanjutan diartikan sebagai selisih harga antara obligasi berkelanjutan dan obligasi konvensional, yang diwakili oleh yield to maturity (YTM). Premi berkelanjutan memberikan manfaat bagi penerbit dengan menurunkan biaya pendanaan dan membangun modal sosial. Metode analisis yang digunakan adalah regresi panel data dengan data obligasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (IDX) periode 2020‑2023. Data terdiri dari guna tiga ratus delapan puluh delapan obligasi yang disortir berdasarkan tipe (obligasi berkelanjutan dan non‑berkelanjutan) serta perusahaan penerbitnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa YTM obligasi berkelanjutan cenderung lebih tinggi daripada obligasi konvensional, sehingga tidak terdapat premi berkelanjutan pada obligasi berkelanjutan BUMN di Indonesia. Sementara itu, skor risiko ESG, status BUMN, return on assets, dan debt‑to‑asset ratio tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap YTM obligasi berkelanjutan BUMN. Penilaian kredit, durasi terubah, PDB, dan inflasi memberikan pengaruh signifikan terhadap YTM obligasi berkelanjutan BUMN.

ribuan ternyata tidak ada premi berkelanjutan pada obligasi BUMN, karena YTM mereka cenderung lebih tinggi daripada obligasi konvensional.Faktor‑faktor ESG, status BUMN, ROA, dan leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap YTM, sementara rating kredit, durasi terubah, PDB, dan inflasi memengaruhi YTM secara signifikan.Status BUMN tidak menghasilkan YTM lebih rendah, menunjukkan persepsi risiko investor tidak berbeda antara BUMN dan perusahaan swasta.

Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada premi berkelanjutan pada obligasi BUMN, sehingga perlu dipahami faktor apa yang membuat YTM lebih tinggi. Pertama, studi lebih lanjut dapat mengkaji dinamika premi berkelanjutan pada periode yang lebih luas, misalnya 2015‑2024, untuk menilai dampak krisis Covid‑19 secara lebih mendalam. Kedua, peneliti dapat memperluas variabel ESG dengan memasukkan kualitas pelaporan ESG dan sertifikasi independen guna menilai apakah evaluasi ESG yang lebih granular berpengaruh pada YTM. Ketiga, perbandingan antara nilai rating kredit lembaga rating domestik dan internasional dapat menilai konsistensi penilaian risiko dalam konteks obligasi berkelanjutan. Selanjutnya, analisis perspektif investor melalui survei atau wawancara dapat mengidentifikasi persepsi risiko dan ekspektasi pengembalian pada obligasi berkelanjutan. Melalui pendekatan kualitatif tersebut, peneliti dapat menghubungkan hasil kuantitatif dengan motivasi investor dalam memilih obligasi berkelanjutan. Metode tambahan seperti analisis time‑series persentase greenium dapat memantau perubahan harga seiring waktu. Kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif akan memberikan gambaran holistik mengenai mekanisme penetapan nilai obligasi berkelanjutan di pasar modal Indonesia. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat menyediakan rekomendasi kebijakan bagi BUMN dan regulator untuk meningkatkan daya tarik obligasi berkelanjutan.

Read online
File size485.25 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test