UIGMUIGM

Indonesian Global Journal Of Medical Research and DevelopmentIndonesian Global Journal Of Medical Research and Development

Latar Belakang: Selulitis orbital dapat menyerupai glaukoma sudut tertutup akut, terutama pada pasien imunokompromais sehingga menyulitkan diagnosis. Tujuan: Melaporkan kasus selulitis orbital dengan manifestasi yang menyerupai glaukoma akut serta menekankan pentingnya evaluasi klinis komprehensif. Metode: Laporan kasus deskriptif ini menggunakan data yang diperoleh dari rekam medis, anamnesis, pemeriksaan oftalmologi, pemeriksaan laboratorium, serta observasi klinis selama perawatan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis, evaluasi diagnosis banding, dan pendekatan multidisiplin, kemudian dilakukan pemantauan serial terhadap respons terapi antibiotik. Hasil: Perempuan 60 tahun dengan diabetes melitus dan penyakit ginjal kronik menjalani hemodialisis datang dengan mata merah, nyeri, penurunan tajam penglihatan, edema palpebra, kemosis, edema kornea, dan peningkatan tekanan intraokular. Diagnosis banding meliputi selulitis orbital dan glaukoma sudut tertutup akut. Terapi multidisiplin memberikan perbaikan klinis parsial meskipun terjadi komplikasi berupa corneal melting. Kesimpulan: Tumpang tindih manifestasi klinis memerlukan kewaspadaan tinggi, terutama pada pasien imunokompromais, untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan.

Kasus mata merah dengan penurunan visus dan peningkatan tekanan intraokular menunjukkan tantangan diagnostik karena gejala tumpang tindih antara glaukoma sudut tertutup dan selulitis orbital.Peningkatan tekanan intraokular, yang biasanya terkait glaukoma, pada kasus ini dapat menyesatkan.manifestasi seperti pembengkakan palpebra dan kemosis difus lebih mendukung selulitis orbital.Oleh karena itu, kewaspadaan klinis tinggi dan pendekatan komprehensif sangat penting, terutama pada pasien imunokompromais dengan penyakit sistemik, untuk mencegah keterlambatan diagnosis dan memastikan prognosis visual yang baik.

Melihat tantangan diagnostik yang kompleks dan pentingnya penanganan cepat pada kasus seperti selulitis orbital yang menyerupai glaukoma akut, terutama pada pasien dengan sistem imun lemah, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang bisa dieksplorasi. Pertama, diperlukan studi untuk mengembangkan dan memvalidasi algoritma diagnostik yang lebih canggih, mungkin dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, yang mampu secara akurat membedakan antara selulitis orbital dan glaukoma akut. Algoritma ini harus mengintegrasikan berbagai data, mulai dari riwayat medis pasien, hasil pemeriksaan fisik dan oftalmologi, hingga data pencitraan seperti CT scan atau MRI, serta biomarker inflamasi yang spesifik. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kesalahan diagnosis awal dan mempercepat intervensi yang tepat, terutama ketika gejala klinis saling tumpang tindih dan waktu menjadi krusial untuk menyelamatkan penglihatan. Kedua, penting untuk melakukan penelitian kohort yang lebih besar, mungkin secara multisenter, untuk secara komparatif menilai bagaimana status imunokompromais—misalnya akibat diabetes melitus atau penyakit ginjal kronis—memengaruhi presentasi klinis, respons terhadap terapi, dan risiko komplikasi jangka panjang pada pasien selulitis orbital. Studi ini dapat mengidentifikasi faktor-faktor prediktif spesifik yang membuat pasien imunokompromais lebih rentan terhadap presentasi atipikal atau komplikasi serius seperti peleburan kornea, seperti yang terlihat pada kasus ini. Pemahaman yang lebih dalam tentang interaksi antara status imun pasien dan perjalanan penyakit orbital cellulitis akan sangat berharga. Terakhir, perlu juga diteliti efektivitas dan implementasi protokol penatalaksanaan multidisiplin yang terstandardisasi. Mengingat kasus ini melibatkan koordinasi antara departemen oftalmologi dan penyakit dalam, penelitian dapat mengevaluasi bagaimana pendekatan terintegrasi ini dapat dioptimalkan untuk memastikan perawatan yang komprehensif dan responsif terhadap kondisi sistemik pasien yang kompleks. Ini akan membantu dalam mengembangkan pedoman praktik klinis yang lebih baik untuk pasien dengan tantangan diagnostik serupa.

  1. Review of ophthalmic emergencies in primary care: a comprehensive approach to red eye. review ophthalmic... doi.org/10.21037/aes-25-10Review of ophthalmic emergencies in primary care a comprehensive approach to red eye review ophthalmic doi 10 21037 aes 25 10
  2. Red Eye: A Guide for Non-specialists (28.04.2017). red eye guide non specialists cme dtsch arztebl int... di.aerzteblatt.de/int/archive/article/188182Red Eye A Guide for Non specialists 28 04 2017 red eye guide non specialists cme dtsch arztebl int di aerzteblatt de int archive article 188182
  3. Differential diagnosis and management of the red eye in primary care - Mamtora - 2024 - Prescriber -... doi.org/10.1002/psb.2164Differential diagnosis and management of the red eye in primary care Mamtora 2024 Prescriber doi 10 1002 psb 2164
Read online
File size618.46 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test