TYARLYTATYARLYTA

JURNAL BIOSAINSTEKJURNAL BIOSAINSTEK

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue. DBD adalah penyakit akut dengan manifestasi klinis perdarahan yang menimbulkan syok dan dapat berujung pada kematian. DBD dapat menyerang semua kelompok usia, dari anak-anak di bawah 15 tahun hingga orang dewasa berusia 15 tahun ke atas. Gejala DBD meliputi demam selama 2-7 hari dengan suhu 3,90°C, sakit kepala, nyeri punggung, dan nyeri ulu hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian DBD di Rumah Sakit Umum Daerah Tobelo. Penelitian ini merupakan studi analitik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari 63 responden. Variabel yang diteliti meliputi usia, pengetahuan, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3Mplus, serta kebiasaan menggantung pakaian. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor usia, pengetahuan, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3Mplus, serta kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian Demam Berdarah Dengue, karena nilai p > 0,05. Sebagian besar kasus DBD terjadi pada kelompok usia <25 tahun. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (100%). Sebanyak 51% responden tidak melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3Mplus secara baik. Sebanyak 95% responden memiliki kebiasaan menggantung pakaian yang buruk.

Sebagian besar kasus Demam Berdarah Dengue di Rumah Sakit Umum Daerah Tobelo terjadi pada kelompok usia di bawah 25 tahun.Meskipun sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik tentang DBD, mayoritas tidak melaksanakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk dan 3Mplus secara konsisten.Kebiasaan menggantung pakaian yang buruk juga ditemukan pada 95% responden, yang dapat menjadi faktor pendukung berkembangnya nyamuk Aedes aegypti.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang efektivitas program edukasi kesehatan berbasis komunitas dalam meningkatkan pelaksanaan 3Mplus di rumah tangga yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat DBD. Kedua, penting untuk meneliti pengaruh modifikasi lingkungan rumah, seperti penggunaan kelambu anti-nyamuk dan sistem ventilasi tertutup, terhadap penurunan kontak manusia dengan nyamuk Aedes aegypti di daerah endemis. Ketiga, perlu dikaji dampak kebiasaan menggantung pakaian dalam ruangan terhadap populasi nyamuk dewasa melalui studi observasional longitudinal yang mengukur kepadatan nyamuk di rumah dengan dan tanpa kebiasaan tersebut. Penelitian-penelitian ini dapat saling melengkapi dengan menggabungkan aspek perilaku, pengetahuan, dan lingkungan fisik yang selama ini dianalisis secara terpisah. Hasilnya dapat digunakan untuk merancang intervensi terpadu yang lebih holistik dan berkelanjutan. Fokus pada populasi muda di bawah 25 tahun juga penting karena mereka menjadi kelompok paling rentan. Pendekatan yang melibatkan sekolah, tempat ibadah, dan lingkungan kerja dapat diterapkan untuk menjangkau kelompok ini secara efektif. Selain itu, pendekatan kualitatif dapat digunakan untuk memahami hambatan non-teknis dalam menerapkan perilaku pencegahan. Dengan demikian, strategi pencegahan DBD dapat dikembangkan secara lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Read online
File size403.26 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test