TSBTSB

JURNAL PENDIDIKAN BAHASAJURNAL PENDIDIKAN BAHASA

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bentuk kata serta kalimat . Fokus penelitian diarahkan pada pola linguistik dan fungsi sosial dari sarkasme yang muncul dalam bentuk leksikal dan sintaksis. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan sosiosemantik untuk menelaah hubungan antara makna dan konteks sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi dan pencatatan. Analisis data mengacu pada teori sosiosemantik yang dikemukakan oleh Halliday, khususnya dalam konteks hubungan antara teks dan situasi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sarkasme dalam kolom komentar muncul dalam bentuk kata tunggal, kata majemuk (idiom), dan akronim. Pada tataran kalimat, ditemukan pola sarkasme berbentuk kalimat interogatif dan imperatif yang menyiratkan sindiran tajam. Struktur kalimat sarkastik umumnya mengikuti pola oposisi antara Subjek (S) dan Predikat (P), di mana makna yang muncul sering kali berlawanan dengan makna harfiah. Pola ini menciptakan efek sindiran yang kuat, sehingga sarkasme tetap terbaca meskipun mengalami variasi bentuk.

Terdapat dua bentuk sarkasme dalam penelitian ini, yaitu sarkasme kata dan kalimat.Sarkasme kata berbentuk kata dasar, kata majemuk, dan akronim.Kata dasar adalah bentuk dasar dari sebuah kata yang belum mengalami proses afiksasi, pemajemukan, atau perubahan lainnya.Kata dasar ini berfungsi sebagai unit dasar dalam pembentukan kata baru.Kata majemuk merupakan kata yang terbentuk dari penggabungan dua kata atau lebih yang memiliki makna baru.Kemudian kata akronim itu bentuk singkatan yang dibuat dari huruf-huruf awal atau bagian-bagian tertentu dari sebuah frasa atau nama yang lebih panjang.Sarkasme kata memiliki ciri untuk menyindir, mengejek, atau mengkritik seseorang atau sesuatu secara tajam, meskipun terkadang bisa disampaikan dengan cara yang halus atau humoris.Sarkasme kata berfungsi sebagai alat komunikasi yang efektif untuk menyampaikan kritik, ketidakpuasan, atau humor, tetapi harus digunakan dengan hati-hati karena bisa menyinggung atau membingungkan jika tidak dipahami dengan baik oleh pendengar.Biasanya digunakan untuk kata sarkasme digunakan untuk menyampaikan kritik, sindiran, atau humor dengan cara yang tidak langsung dan seringkali bertujuan untuk mengekspresikan ketidaksetujuan atau frustrasi terhadap sesuatu atau seseorang.Namun, penggunaannya harus hati-hati karena bisa menyinggung atau menyebabkan kesalahpahaman jika tidak dipahami dengan baik.Bentuk kalimat yang ditemukan berupa kalimat sindiran interogatif dan sindiran imperatif.Kalimat sindiran interogatif merupakan kalimat tanya yang berisikan ejekan dan sindiran.Bentuk kalimat sarkasme meliputi kalimat sindiran interogatif dan kalimat sindiran imperatif.Kalimat sindiran interogatif merupakan kalimat pertanyaan yang digunakan untuk menyindir seseorang atau situasi tertentu.Meskipun bentuknya berupa pertanyaan, tujuan utama dari kalimat ini bukan untuk meminta informasi, melainkan untuk menyampaikan kritik atau sindiran secara halus.Kalimat lainnya berupa kalimat sindiran imperatif yaitu kalimat yang berbentuk perintah atau ajakan, namun sebenarnya bertujuan untuk menyindir atau memberikan kritik secara tidak langsung.Meskipun terlihat seperti perintah biasa, kalimat ini sering kali menyampaikan makna yang bertentangan atau menyoroti kekurangan atau ketidaktepatan seseorang.Semua bentuk kalimat memiliki pola yang sama untuk menjadi kalimat sarkasme.pola yang dimaksud adalah pola oposisi semantik antara S dan P.Oposisi semantik mengacu pada pertentangan konsep antara S dan P.Bila S memiliki komponen makna berupa konsep positif, maka P beroposisi dengan konsep S.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan analisis lebih mendalam tentang dampak sarkasme dalam kolom komentar media sosial terhadap interaksi sosial dan psikologis pengguna. Selain itu, dapat juga dilakukan studi komparatif antara penggunaan sarkasme dalam kolom komentar media sosial dengan bentuk komunikasi sarkasme lainnya, seperti dalam percakapan tatap muka atau melalui pesan pribadi. Penelitian ini dapat membantu memahami dinamika komunikasi sarkasme di era digital dan implikasinya terhadap perilaku sosial dan emosional pengguna media sosial.

  1. SARKASME DAN KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA PADA AKRONIM PPKM DI MASA PANDEMI COVID-19 | Buana | Kajian Linguistik... doi.org/10.23917/kls.v8i1.22300SARKASME DAN KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA PADA AKRONIM PPKM DI MASA PANDEMI COVID 19 Buana Kajian Linguistik doi 10 23917 kls v8i1 22300
  2. Kalimat Imperatif dalam Teks Prosedur | Fitriyani | Deiksis. kalimat imperatif teks prosedur fitriyani... journal.lppmunindra.ac.id/index.php/Deiksis/article/view/7024Kalimat Imperatif dalam Teks Prosedur Fitriyani Deiksis kalimat imperatif teks prosedur fitriyani journal lppmunindra ac index php Deiksis article view 7024
  3. Sarkasme pada Kolom Komentar Media Sosial | JURNAL PENDIDIKAN BAHASA. sarkasme kolom sosial jurnal pendidikan... doi.org/10.37630/jpb.v15i2.2655Sarkasme pada Kolom Komentar Media Sosial JURNAL PENDIDIKAN BAHASA sarkasme kolom sosial jurnal pendidikan doi 10 37630 jpb v15i2 2655
Read online
File size262.66 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test