STIKESPANTIWALUYASTIKESPANTIWALUYA

Jurnal Manajemen Informasi KesehatanJurnal Manajemen Informasi Kesehatan

Kodefikasi penyakit merupakan salah satu elemen penting dalam sistem informasi kesehatan yang memiliki peran besar dalam menjamin akurasi data klinis, kelancaran proses klaim asuransi, hingga pengambilan kebijakan berbasis data. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi ketepatan pengkodean diagnosis dengan menggunakan pendekatan 5M (Man, Money, Method, Machine, Material). Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif, berdasarkan lima artikel penelitian yang diterbitkan antara tahun 2020 hingga 2025. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor manusia (man) seperti beban kerja berlebih, kurangnya pelatihan, dan tugas ganda berdampak negatif terhadap ketepatan koding. Faktor keuangan (money) terkait minimnya anggaran untuk pengembangan kompetensi petugas. Dari sisi metode (method), masih ditemukan kendala dalam implementasi SOP, meskipun SOP telah tersedia. Faktor teknologi (machine) meliputi keterbatasan referensi seperti buku panduan dan sistem informasi yang belum optimal. Sedangkan faktor material mencakup isi rekam medis yang tidak lengkap, tulisan dokter yang tidak terbaca, dan penggunaan singkatan yang tidak baku.

Faktor manusia, termasuk beban kerja berlebih, kurangnya pelatihan, tidak meninjau kembali catatan dokter, dan penugasan kodefikasi kepada perawat, secara signifikan menurunkan ketepatan kode diagnosis.Keterbatasan finansial (tidak ada anggaran pelatihan), ketidakhadiran atau penerapan SOP yang belum optimal, serta masalah teknis seperti ketiadaan buku referensi, sistem SIMRS yang belum lengkap, gangguan jaringan, dan kegagalan perangkat keras memperburuk akurasi kodefikasi.Selain itu, kualitas rekam medis yang buruk, berupa tulisan dokter yang tidak terbaca dan kelengkapan data yang kurang dari 100%, juga menjadi penyebab utama ketidaktepatan kode diagnosis.

Penelitian selanjutnya dapat menguji efektivitas program pelatihan berkelanjutan bagi petugas kodefikasi melalui desain eksperimen terkontrol, dengan mengukur perubahan akurasi kode diagnosis sebelum dan sesudah pelatihan. Selain itu, studi pilot yang mengintegrasikan SOP digital ke dalam sistem rekam medis elektronik dapat dievaluasi untuk menilai sejauh mana kepatuhan SOP meningkatkan konsistensi dan ketepatan kodefikasi. Terakhir, pengembangan alat berbasis kecerdasan buatan yang dapat mengenali tulisan dokter yang tidak terbaca dan secara otomatis menyarankan kode ICD-10 yang tepat perlu diuji pada beberapa fasilitas kesehatan untuk menilai dampaknya terhadap kualitas data klinis serta efisiensi proses kodifikasi.

  1. ANALISIS KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT KARANGGEDE... jhimi.poltekindonusa.ac.id/jurnal_jhimi/index.php/MIK/article/view/21ANALISIS KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS PENYAKIT TUBERKULOSIS PARU PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT KARANGGEDE jhimi poltekindonusa ac jurnal jhimi index php MIK article view 21
  2. ANALISIS KETEPATAN KODE DIAGNOSIS DAN TINDAKAN KASUS OBSTETRI PASIEN RAWAT INAP DI RSUD WARAS WIRIS BOYOLALI... doi.org/10.47701/infokes.v14i1.3773ANALISIS KETEPATAN KODE DIAGNOSIS DAN TINDAKAN KASUS OBSTETRI PASIEN RAWAT INAP DI RSUD WARAS WIRIS BOYOLALI doi 10 47701 infokes v14i1 3773
Read online
File size319.72 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test