UNDIPUNDIP

MODULMODUL

Di negara tropis seperti Indonesia, desain arsitektur menghadapi tantangan mendesak untuk mengurangi kelebihan panas, kelembaban, dan paparan sinar matahari, namun banyak bangunan masih mengadopsi model desain impor yang tidak kontekstual. Penelitian ini mengeksplorasi implementasi dan trajektori transisional sebuah fasad jendela fotobioraktor (PBR) berbasis mikroalga—sebuah inovasi yang mengintegrasikan sistem biologis ke dalam selubung bangunan untuk peneduhan termal, modulasi cahaya, dan kinerja ekologi. Dengan menggunakan kerangka Multi-Level Perspective (MLP), penelitian ini menelaah interaksi antara eksperimen niche, kendala pada tingkat rezim, serta faktor pemandangan yang membentuk adopsi teknologi bangunan hijau di Indonesia. Fasad PBR yang dikembangkan melalui kolaborasi universitas‑industri dan dipasang di Semarang, menunjukkan bagaimana inovasi arsitektural dapat berkembang melalui pembelajaran iteratif, kolaborasi lintas sektor, dan pengujian di lingkungan nyata. Namun, penyebaran yang lebih luas dibatasi oleh norma desain yang mengakar, kurangnya standar regulasi, dan mekanisme institusional untuk sertifikasi. Tekanan pemandangan seperti imperatif ESG dan tujuan adaptasi iklim menawarkan peluang menjanjikan, namun perubahan sistemik memerlukan keselarasan kebijakan, praktik profesional, dan narasi budaya. Studi ini memberikan peta jalan berorientasi proses untuk mengintegrasikan fasad yang hidup secara biologis ke dalam transisi keberlanjutan arsitektur perkotaan tropis.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem fasad jendela fotobioraktor (PBR) merupakan inovasi keberlanjutan yang menjanjikan namun masih pada tahap awal dalam lanskap arsitektur Indonesia, dimana ia menggabungkan komponen hidup yang bersifat performatif ke dalam selubung bangunan tradisional.Meskipun eksperimen pada tingkat niche telah menghasilkan terobosan fungsional dan simbolik, kendala rezim seperti kekurangan regulasi, estetika yang mengakar, dan inersia institusional menghambat adopsi yang lebih luas, sementara tekanan pemandangan seperti kerangka ESG dan kebijakan iklim membuka peluang transformasi.Penelitian selanjutnya diperlukan untuk menilai kinerja energi jangka panjang, dampak siklus hidup, skala penerapan pada tipe bangunan berbeda, serta mengkaji bagaimana standar sertifikasi dan regulasi dapat mengakomodasi fasad bio‑integrasi.

Penelitian selanjutnya dapat menguji kinerja energi dan termal jangka panjang fasad PBR pada berbagai zona iklim tropis di Indonesia untuk memahami efektivitasnya dalam kondisi lingkungan yang beragam; studi LCA (Life Cycle Assessment) dapat dilakukan untuk membandingkan dampak lingkungan fasad PBR dengan fasad konvensional, sehingga memberikan gambaran lengkap tentang keuntungan ekologi dan potensi pengurangan emisi; serta penelitian kebijakan dapat merancang dan mengevaluasi kerangka sertifikasi serta standar regulasi khusus untuk fasad bio‑integrasi, melibatkan pemangku kepentingan seperti arsitek, regulator, dan masyarakat guna memastikan adopsi yang lebih luas dan berkelanjutan.

  1. Photobioreactor design utilizing procedural three-dimensional modelling and ray tracing | Journal of... royalsocietypublishing.org/doi/10.1098/rsif.2024.0451Photobioreactor design utilizing procedural three dimensional modelling and ray tracing Journal of royalsocietypublishing doi 10 1098 rsif 2024 0451
  2.  . 0 doi.org/10.3390/buildings14092607A 0 doi 10 3390 buildings14092607
  3.  . powered protected privacy doi.org/10.20944/preprints202408.1595.v1A powered protected privacy doi 10 20944 preprints202408 1595 v1
  4. Algae-Powered Buildings: A Review of an Innovative, Sustainable Approach in the Built Environment. algae... doi.org/10.3390/su15043729Algae Powered Buildings A Review of an Innovative Sustainable Approach in the Built Environment algae doi 10 3390 su15043729
Read online
File size560.91 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test