ACEHPROVACEHPROV

Journal of Medical ScienceJournal of Medical Science

Torsio testis adalah kedaruratan urologi yang menyebabkan kerusakan jaringan akibat cedera iskemia-reperfusi, seringkali berujung pada infertilitas. Belum ada agen terapeutik standar untuk kondisi ini. Platelet Rich Plasma (PRP), sebagai agen autolog kaya faktor pertumbuhan, memiliki potensi mengurangi stres oksidatif dan memperbaiki sel. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh PRP terhadap perbaikan histopatologi testis dan kualitas spermatozoa tikus pasca torsio. Penelitian eksperimental ini menggunakan 15 tikus putih jantan (Rattus norvegicus) yang dibagi 3 kelompok, Kelompok I (Torsio PRP 10 µl intratestikular), Kelompok II (Torsio tanpa PRP), dan Kelompok III (Kontrol normal). Torsio 720° diinduksi selama 4 jam, diikuti detorsi. Evaluasi histopatologi dan kualitas spermatozoa (konsentrasi, motilitas, viabilitas, morfologi) dilakukan setelah 14 hari. Secara histopatologi, Kelompok I (PRP) menunjukkan perbaikan jaringan tubulus seminiferus yang lebih baik dibanding Kelompok II (Torsio). Analisis spermatozoa menunjukkan Kelompok I memiliki rerata konsentrasi, motilitas, dan morfologi normal yang secara signifikan lebih tinggi dibanding Kelompok II (p<0,05). Namun, tidak ada perbedaan signifikan pada viabilitas. Pemberian PRP berpengaruh positif terhadap perbaikan histopatologi tubulus seminiferus dan secara signifikan meningkatkan kualitas spermatozoa (konsentrasi, mortilitas, dan morfologi) pada tikus pasca torsio testis.

Berdasarkan hasil penelitian, Platelet Rich Plasma (PRP) menunjukkan efek positif terhadap degenerasi testis pada tikus putih (Rattus norvegicus) dengan perbaikan morfologi tubulus seminiferus dan kualitas morfologi spermatozoa.Pemberian PRP secara signifikan meningkatkan konsentrasi, motilitas, dan morfologi spermatozoa pasca torsio testis, namun tidak berpengaruh terhadap viabilitas spermatozoa.Dengan demikian, PRP dapat menjadi agen terapeutik potensial untuk memperbaiki kerusakan testis setelah torsio.

Penelitian lanjutan dapat meneliti pertanyaan berikut: (1) Berapa dosis dan kapan waktu terbaik pemberian Platelet‑Rich Plasma (PRP) untuk memaksimalkan pemulihan jaringan testis setelah torsio pada model hewan? (2) Apakah pemberian PRP tidak hanya memperbaiki struktur histologis tetapi juga meningkatkan hasil fertilitas jangka panjang, seperti tingkat kehamilan atau jumlah anak yang hidup, pada tikus yang telah mengalami torsio testis? (3) Bagaimana keamanan dan efektivitas PRP ketika diterapkan pada pasien manusia yang mengalami torsio testis, khususnya dalam mengurangi risiko infertilitas setelah detorsi? Untuk menjawab pertanyaan‑pertanyaan tersebut, diperlukan percobaan dengan kelompok kontrol yang lebih banyak, pemantauan selama beberapa bulan hingga satu tahun, serta penggunaan parameter fertilitas klinis dan biokimia yang komprehensif. Hasilnya diharapkan dapat memberikan pedoman klinis yang jelas mengenai penggunaan PRP sebagai terapi tambahan setelah operasi detorsi, serta membuka peluang terapi kombinasi dengan agen anti‑inflamasi atau anti‑oksidan. Dengan pendekatan ini, ilmu kedokteran dapat lebih cepat mengatasi komplikasi jangka panjang dari torsio testis dan meningkatkan harapan hidup reproduksi pasien.

Read online
File size598.65 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test