SARI MUTIARASARI MUTIARA

JURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKATJURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT

Kelelahan kerja (burnout) merupakan masalah kesehatan kerja yang berdampak pada produktivitas, kualitas pelayanan, dan kesejahteraan pekerja. Di Indonesia, prevalensi kelelahan kerja dilaporkan mencapai 63,78%. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang melibatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki tuntutan akurasi, ketepatan waktu, dan tanggung jawab operasional yang tinggi, berpotensi meningkatkan tekanan kerja dan risiko kelelahan kerja pada karyawan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara work life balance dan kelelahan kerja pada karyawan SPPG. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang melibatkan 47 karyawan SPPG. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki work life balance rendah hingga sangat rendah, dan tingkat kelelahan kerja sangat tinggi. Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara work life balance dan kelelahan kerja (p = 0,164). Meskipun demikian, proporsi responden dengan kelelahan kerja sangat tinggi lebih besar pada kelompok dengan work life balance rendah–sangat rendah.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi memiliki tingkat work life balance rendah hingga sangat rendah serta mengalami kelelahan kerja pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara work life balance dan kelelahan kerja pada karyawan (p = 0,164).Meskipun demikian, secara deskriptif terlihat kecenderungan bahwa responden dengan work life balance rendah–sangat rendah memiliki proporsi kelelahan kerja sangat tinggi.Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara work life balance dan kelelahan kerja pada lingkungan kerja pelayanan publik bersifat kompleks dan kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain yang lebih dominan.Tingginya prevalensi kelelahan kerja mengindikasikan bahwa faktor organisasi, seperti beban kerja, tekanan operasional, ritme kerja, durasi kerja, serta keterbatasan waktu pemulihan, diduga memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap terjadinya kelelahan kerja dibandingkan work life balance secara individual.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan melibatkan sampel yang lebih besar dan distribusi data yang lebih bervariasi agar analisis statistik dapat mendeteksi hubungan antarvariabel dengan lebih optimal. Selain itu, perlu mempertimbangkan faktor organisasi dan lingkungan kerja lainnya, seperti beban kerja, sistem kerja, durasi kerja, dan dukungan sosial kerja, untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai determinan kelelahan kerja pada karyawan. Upaya pencegahan kelelahan kerja perlu dilakukan secara komprehensif melalui pengelolaan beban kerja yang proporsional, penyediaan waktu istirahat yang memadai, peningkatan dukungan organisasi, serta pelaksanaan pemantauan kesehatan kerja secara berkala.

  1. ANALISIS KESEIMBANGAN KEHIDUPAN KERJA PADA KELELAHAN KERJA PERAWAT DI RUANG ISOLASI COVID-19 (STUDI KASUS... majalahfk.ub.ac.id/index.php/mkfkub/article/view/550ANALISIS KESEIMBANGAN KEHIDUPAN KERJA PADA KELELAHAN KERJA PERAWAT DI RUANG ISOLASI COVID 19 STUDI KASUS majalahfk ub ac index php mkfkub article view 550
  2. HUBUNGAN KESEIMBANGAN KEHIDUPAN KERJA DAN KELELAHAN KERJA PADA PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK | JIANA... doi.org/10.46730/jiana.v23i2.8301HUBUNGAN KESEIMBANGAN KEHIDUPAN KERJA DAN KELELAHAN KERJA PADA PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK JIANA doi 10 46730 jiana v23i2 8301
  3. MPLEMENTASI KEBIJAKAN MAKAN BERGIZI GRATIS (MBG)(STUDI KASUS PADA SDN 3 KEPANJEN KABUPATEN MALANG | Febryanti... doi.org/10.14710/dialogue.v7i1.26628MPLEMENTASI KEBIJAKAN MAKAN BERGIZI GRATIS MBG STUDI KASUS PADA SDN 3 KEPANJEN KABUPATEN MALANG Febryanti doi 10 14710 dialogue v7i1 26628
Read online
File size398.27 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test