POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA

KIAKIA

Labor pain is a significant physiological and psychological stressor for women in childbirth. If unmanaged, it may lead to adverse maternal and fetal outcomes. Non‑pharmacological methods such as aromatherapy offer a low‑risk alternative for pain management. Rose aromatherapy, with its known relaxing and antispasmodic properties, has been proposed to reduce labor pain through inhalation. This pre‑experimental study used a one‑group pre‑test‑post‑test design involving 36 laboring mothers in the active phase I at Garuda Public Health Center, Bandung, Indonesia. Participants received rose aromatherapy via inhalation for 10 minutes. Labor pain was measured before and after the intervention using the Numeric Rating Scale (NRS). Data were analyzed using the Wilcoxon signed‑rank test. The mean labor pain score decreased from 8.58 (SD = 0.94) before the intervention to 7.25 (SD = 1.38) after, with a statistically significant difference (Z = –5.15, p < 0.001). Rose aromatherapy significantly reduces labor pain during the first active phase of labor. These findings support its use as a complementary intervention in midwifery care to enhance maternal comfort during childbirth.

Studi ini menunjukkan bahwa aromaterapi rose secara signifikan mengurangi intensitas nyeri persalinan pada fase aktif I persalinan, menurunkan skor rata‑rata nyeri dari 8,58 menjadi 7,25 (p < 0.Meskipun terdapat variasi respon pada sebagian ibu primigravida, hasil ini mendukung penggunaan aromaterapi rose sebagai intervensi non‑farmakologis yang aman dan dapat diterima di fasilitas perawatan kesehatan primer.Peningkatan penelitian, seperti uji coba acak dan ukuran sampel yang lebih besar, diperlukan untuk menegaskan efek klinis dan menentukan dosis optimalnya.

Sebuah penelitian berikutnya dapat mengeksplorasi efektivitas aromaterapi rose dalam kombinasi dengan terapi relaksasi atau pijatan ringan, dengan mengajukan pertanyaan apakah kombinasi ini dapat lebih menurunkan skor nyeri persalinan dibandingkan aromaterapi atau pijatan saja secara terpisah. Penelitian selanjutnya juga dapat menilai dampak jangka panjang, seperti tingkat kepuasan ibu, pengalaman perawatan bersalin, serta utilisasi layanan kesehatan anak setelah melahirkan, dengan menanyakan apakah penggunaan aromaterapi pada fase aktif I dapat meningkatkan kepuasan dan mengurangi kebutuhan bantuan medis tambahan. Akhirnya, studi multiklinik yang melibatkan pusat kesehatan primer di daerah pedesaan dan perkotaan dapat diusulkan, bertujuan menilai konsistensi efektivitas aromaterapi rose di berbagai kondisi kesehatan dan budaya, serta memeriksa apakah faktor lingkungan, tingkat pendidikan, dan ketersediaan sumber daya memengaruhi hasil intervensi.

Read online
File size393.6 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test