POLTEKKES JOGJAPOLTEKKES JOGJA

KIAKIA

Anemia selama kehamilan tetap menjadi masalah kesehatan publik, terutama di negara berpendapatan rendah dan menengah. Status gizi, termasuk indeks massa tubuh (BMI), lingkar lengan atas (MUAC), dan kenaikan berat badan gestasional (GWG), diyakini memainkan peran penting dalam perkembangan anemia, terutama pada trimester ketiga ketika hemodilusi fisiologis puncaknya. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara status gizi ibu (berdasarkan BMI, MUAC, dan kenaikan berat badan selama kehamilan) dan kejadian anemia pada trimester ketiga. Penelitian ini bersifat cross‑sectional dan dilaksanakan di Puskesmas Bengkuring, Samarinda, Indonesia pada tahun 2023. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan penilaian klinis. Status gizi dinilai lewat BMI, MUAC, dan GWG, sementara anemia ditentukan menggunakan kadar hemoglobin. Analisis statistik menggunakan korelasi Spearman untuk menentukan hubungan antara indikator gizi dan kejadian anemia. Hasil menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status gizi dan anemia. Ibu dengan BMI kurang dan berlebih keduanya berhubungan dengan prevalensi anemia yang meningkat (p < 0,05; r = 0,275), menunjukkan bahwa nilai BMI ekstrem menimbulkan risiko. Ibu dengan MUAC rendah (menunjukkan defisiensi energi kronis) menunjukkan proporsi anemia lebih tinggi (p = 0,046; r = –0,275). GWG yang tidak memadai juga secara signifikan berkorelasi dengan anemia (p = 0,011; r = –0,345). Sebagian besar kasus anemia bersifat ringan, sementara ibu dengan overweight dan undernutrition menunjukkan susceptibilitas lebih tinggi karena gangguan metabolisme besi dan cadangan nutrisi yang suboptimal. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa status gizi ibu secara signifikan memengaruhi anemia pada akhir kehamilan. Penelitian ini menegaskan perlunya identifikasi dini wanita berisiko berdasarkan BMI, MUAC, dan GWG. Parameter tersebut dapat berfungsi sebagai alat penyaringan sederhana dan hemat biaya di setting perawatan antenatal untuk mencegah komplikasi mata-mata ibu dan janin.

Penelitian ini menunjukkan asosiasi signifikan antara status gizi ibu—terutama BMI di bawah dan di atas standar, MUAC rendah, serta kenaikan berat badan gestasional yang tidak memadai—dengan kejadian anemia pada trimester ketiga.Pola risiko U‑shape pola ini menegaskan pentingnya penilaian gizi rutin menggunakan BMI, MUAC, dan GWG sebagai bagian dari praktik perawatan antenatal, sehingga intervensi gizi yang disesuaikan dapat mengurangi risiko anemia dan meningkatkan hasil mother‑baby.

Sesuai temuan lapangan, diperlukan penelitian longitudinal yang melibatkan sampel beragam wilayah di Indonesia untuk menangkap dinamika status gizi dan anemia sepanjang trimester; studi intervensi yang menggabungkan pemberian suplemen nutrisi (besi, folat, vitamin B12) serta edukasi gizi berbasis MUAC dapat dievaluasi secara komprehensif; serta analisis multivariat yang menambahkan biomarker inflamasi (seperti CRP, hepcidin) akan memperjelas mekanisme patofisiologi hubungan BMI ekstrem dengan anemia, sehingga kebijakan kesehatan komunitas dapat merancang program screening yang lebih terfokus dan efisien.

Read online
File size379.2 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test