UNJAUNJA

Kajian Linguistik dan SastraKajian Linguistik dan Sastra

Kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam menjaga keharmonisan interaksi sosial, namun dalam praktiknya sering mengalami pelanggaran, khususnya dalam situasi konflik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kesantunan dalam film Bekas (2012) karya Karzan Kader berdasarkan teori Geoffrey Leech. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi melalui penayangan berulang, pencatatan dialog, dan analisis konteks tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran paling dominan terjadi pada maksim penghargaan dan kesimpatian, yang ditandai oleh penggunaan ujaran berupa cacian, hinaan, dan ancaman. Pelanggaran juga ditemukan pada maksim kebijaksanaan, kesederhanaan, dan permufakatan dalam jumlah terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa pelanggaran kesantunan dipengaruhi oleh tekanan sosial, kondisi psikologis tokoh, serta situasi konflik, sehingga menegaskan pentingnya kesantunan berbahasa dalam menjaga kualitas interaksi sosial.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap film Bekas (2012), ditemukan bahwa pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa menurut Leech terjadi secara beragam dan dominan dalam dialog antar tokoh.Pelanggaran tersebut terutama muncul dalam bentuk penghinaan, cacian, ancaman, dan ekspresi emosional yang memperlihatkan ketidakhormatan terhadap lawan tutur.Dari lima belas data yang dianalisis, sebagian besar pelanggaran ditemukan pada maksim penghargaan dan maksim kesimpatian, menunjukkan bahwa tuturan yang merendahkan, mengejek, atau tidak simpatik sangat sering muncul dalam interaksi para tokoh.Selain itu, pelanggaran juga terjadi pada maksim kebijaksanaan, kesederhanaan, dan permufakatan, meskipun jumlahnya lebih sedikit.Pelanggaran-pelanggaran ini dipengaruhi oleh kondisi sosial dalam film, seperti kemiskinan, tekanan hidup, konflik antar karakter, dan hubungan hierarkis yang tidak seimbang.Situasi tersebut menciptakan tuturan-tuturan yang kasar, impulsif, dan penuh emosi sehingga nilai-nilai kesantunan sering kali terabaikan.Temuan ini menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan psikologis penutur.Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip kesantunan dalam komunikasi sehari-hari.Kesantunan bukan hanya mencerminkan karakter individu, juga memengaruhi kualitas hubungan sosial.Dengan memahami prinsip kesantunan dan bentuk-bentuk pelanggarannya, masyarakat diharapkan lebih mampu menjaga etika bertutur demi menciptakan interaksi yang harmonis.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan analisis komparatif terhadap film-film lain yang memiliki tema atau konteks sosial serupa dengan film Bekas (2012). Dengan membandingkan pola-pola pelanggaran kesantunan dalam berbagai film, dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengaruh konteks sosial dan psikologis terhadap perilaku berbahasa. Selain itu, penelitian dapat diperluas dengan mengkaji film-film yang berasal dari budaya atau masyarakat yang berbeda, sehingga dapat dianalisis bagaimana prinsip kesantunan berbahasa bervariasi di antara budaya yang berbeda. Penelitian ini juga dapat dikembangkan dengan menggunakan teori kesantunan lainnya, seperti teori Brown dan Levinson, untuk melihat apakah ada perbedaan dalam pola pelanggaran kesantunan berdasarkan teori yang berbeda. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang lebih luas dalam memahami fenomena kebahasaan dalam konteks sosial-budaya.

  1. Kesantunan Berbahasa dalam Film Jalan Yang Jauh, Jangan Lupa Pulang | GERAM (Gerakan Aktif Menulis).... journal.uir.ac.id/index.php/geram/article/view/23954Kesantunan Berbahasa dalam Film Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang GERAM Gerakan Aktif Menulis journal uir ac index php geram article view 23954
Read online
File size227.48 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test