BAJANGJOURNALBAJANGJOURNAL

International Journal of Social ScienceInternational Journal of Social Science

Kualitas hidup remaja merupakan indikator penting kesehatan keseluruhan yang meliputi dimensi fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Kegiatan fisik dan status gizi biasanya dikaitkan erat dengan kesehatan remaja; namun hubungan mereka dengan kualitas hidup seringkali tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat aktivitas fisik serta status gizi (BMI‑for‑Age) dengan kualitas hidup remaja di Kabupaten Bolaang Mongondow. Metode yang digunakan adalah desain observasional analitik cross‑sectional dengan sampling cluster random pada 406 siswa sekolah menengah. Kegiatan fisik dinilai menggunakan kuesioner Global School‑Based Health Survey (GSHS), status gizi ditentukan melalui BMI‑for‑Age, dan kualitas hidup diukur dengan instrumen WHOQOL‑BREF. Analisis univariate dan bivariate menggunakan uji chi‑square pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan kualitas hidup di semua domain (p > 0,05), serta tidak adanya hubungan signifikan antara status gizi dan kualitas hidup (p > 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa perbedaan level aktivitas fisik maupun status gizi tidak memengaruhi persepsi remaja terhadap kualitas hidup di Kabupaten Bolaang Mongondow. Faktor psikososial dan lingkungan lain yang tidak diuji dalam studi ini kemungkinan lebih memengaruhi kualitas hidup remaja, sehingga perlu kajian lebih lanjut yang menyertakan variabel-variabel tersebut.

Penelitian ini tidak menemukan hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan status gizi (BMI‑for‑Age) dengan kualitas hidup remaja di Kabupaten Bolaang Mongondow.Analisis bivariate menunjukkan bahwa tidak ada hubungan terukur antara aktivitas fisik dan domain kesehatan fisik, psikologis, sosial, maupun lingkungan, serta tidak ada hubungan terukur antara status gizi dan keempat domain tersebut.Temuan tersebut menunjukkan bahwa persepsi kualitas hidup remaja tidak dipengaruhi secara signifikan oleh faktor tingkat aktivitas fisik atau status gizi, sehingga faktor psikososial dan lingkungan yang tidak diukur mungkin berperan lebih besar.

Berkenaan dengan temuan tidak adanya hubungan signifikan antara aktivitas fisik dan status gizi dengan kualitas hidup remaja di Kabupaten Bolaang Mongondow, penelitian selanjutnya dapat memusatkan perhatian pada variabel psikososial dan lingkungan yang mungkin memengaruhi kualitas hidup. Pertama, satu studi longitudinal dapat mengaitkan perubahan aktivitas fisik, status gizi, serta faktor pendukung seperti dukungan keluarga, kerjasama sekolah, dan eksposur media, dengan variasi kualitas hidup selama masa pertumbuhan remaja. Kedua, penelitian kualitatif dapat menggali persepsi remaja terhadap persepsi kesehatan, identitas tubuh, dan pengaruh media sosial terhadap kebiasaan fisik dan pola makan, sehingga dapat memetakan mekanisme psikososial yang membentuk kualitas hidup. Ketiga, intervensi berbasis komunitas yang mengkombinasikan promosi aktivitas fisik, pola makan seimbang, dan pendidikan psikososial dapat dievaluasi melalui desain campuran (mixed methods) untuk menilai dampak komprehensif pada kualitas hidup remaja. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat menegaskan peran faktor psikososial dan lingkungan serta memperkaya strategi kesehatan remaja yang lebih holistik dan kontekstual di wilayah semi‑urban maupun pedesaan.

  1. BABOI: THE TRADITIONAL MOTHER OF SAGULUBBEG MENTAWAI | International Journal of Social Science. baboi... doi.org/10.53625/ijss.v5i3.11709BABOI THE TRADITIONAL MOTHER OF SAGULUBBEG MENTAWAI International Journal of Social Science baboi doi 10 53625 ijss v5i3 11709
Read online
File size480.69 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test