BAJANGJOURNALBAJANGJOURNAL

International Journal of Social ScienceInternational Journal of Social Science

Penelitian ini mengkaji penerapan kearifan lokal dalam pendekatan pedagogis di sekolah menengah pertama di Bali, dengan penekanan pada bagaimana pendidik mengintegrasikan nilai-nilai dan praktik budaya Bali ke dalam pembelajaran di kelas. Penelitian ini mengamati pemanfaatan kearifan lokal, metode pengajaran yang digunakan, serta kendala yang dihadapi dalam berbagai lingkungan pendidikan melalui pendekatan pedagogi yang responsif secara budaya. Metodologi penelitian kualitatif berupa studi kasus mencakup observasi kelas, wawancara terstruktur bersama pendidik dan administrator, serta analisis dokumen pembelajaran. Hasil menunjukkan bahwa filsafat Bali seperti Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi, bersama dengan praktik berbasis komunitas, diintegrasikan melalui metode seperti bercerita, pembelajaran berbasis proyek, menulis reflektif, dan pembelajaran eksperiential. Pendekatan ini mendorong keterlibatan siswa, kesadaran budaya, serta perkembangan moral. Namun, kendala seperti keterbatasan waktu, kurangnya bahan ajar yang relevan secara budaya, pelatihan profesional yang tidak memadai, serta tuntutan dari kurikulum konvensional menghambat penerapannya. Penelitian ini juga mengungkap variasi dalam metode integrasi yang bergantung pada konteks regional dan institusional, dengan sekolah di perkotaan cenderung menggunakan pendekatan reflektif dan diskusi, sementara di daerah semi-perkotaan dan pedesaan lebih banyak menerapkan pembelajaran berbasis pengalaman. Temuan menegaskan bahwa pendidikan yang berakar pada kearifan lokal meningkatkan makna dan efektivitas pembelajaran sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya. Studi ini merekomendasikan perlunya dukungan institusional yang lebih kuat, pelatihan bagi pendidik, serta fleksibilitas kurikulum untuk mendorong pendidikan yang relevan secara budaya.

Penelitian ini menemukan bahwa penerapan kearifan lokal dalam pendekatan pedagogis di sekolah menengah pertama di Bali mampu meningkatkan keterlibatan siswa, pemahaman moral, dan relevansi pembelajaran terhadap kehidupan sehari-hari.Filsafat lokal seperti Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi diintegrasikan melalui metode bercerita, pembelajaran reflektif, dan eksperien, meskipun terhambat oleh keterbatasan waktu, sumber daya, dan pelatihan.Dukungan sistemik seperti pengembangan profesional berkelanjutan, penyediaan modul lokal, dan integrasi dalam kurikulum pendidikan guru diperlukan untuk keberlanjutan dan perluasan pendidikan berbasis budaya.

Pertama, perlu dikaji lebih dalam bagaimana model pelatihan guru berbasis kearifan lokal dapat dirancang secara sistematis dalam pendidikan guru di perguruan tinggi, sehingga calon pendidik sudah terlatih sejak awal dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam pembelajaran lintas mata pelajaran. Kedua, penting untuk meneliti pengembangan modul pembelajaran digital yang memuat kearifan lokal Bali secara interaktif, guna mengatasi keterbatasan bahan ajar yang saat ini harus dibuat secara mandiri oleh guru, serta memastikan akses yang merata di sekolah perkotaan maupun pedesaan. Ketiga, perlu dilakukan studi longitudinal untuk memahami dampak jangka panjang penerapan pendekatan berbasis kearifan lokal terhadap identitas budaya, sikap sosial, dan prestasi belajar siswa seiring waktu, agar dapat memberikan bukti kuat bagi perumusan kebijakan pendidikan yang mendukung keberlanjutan integrasi budaya dalam kurikulum nasional.

  1. INCORPORATING BALINESE LOCAL WISDOM INTO PEDAGOGICAL APPROACHES: A CASE STUDY OF JUNIOR HIGH SCHOOLS... doi.org/10.53625/ijss.v5i2.11050INCORPORATING BALINESE LOCAL WISDOM INTO PEDAGOGICAL APPROACHES A CASE STUDY OF JUNIOR HIGH SCHOOLS doi 10 53625 ijss v5i2 11050
Read online
File size368.47 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test