BAJANGJOURNALBAJANGJOURNAL

International Journal of Social ScienceInternational Journal of Social Science

Penelitian ini membahas sosok Baboi atau Ibu Adat dalam masyarakat Mentawai, khususnya di Desa Sagulubbeg, Siberut Selatan, sebagai representasi otoritas perempuan dalam sistem kepercayaan Arat Sabulungan. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi, penelitian ini mengeksplorasi peran Baboi dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia spiritual melalui praktik ritual, simbolisasi diri, dan pengetahuan ekologi. Baboi bertindak sebagai mediator antara arwah leluhur dan manusia, serta berperan dalam menjaga harmoni kosmologis yang tercermin dalam Titi Geilat dan Sipaggeu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Baboi memiliki fungsi strategis dalam melestarikan nilai-nilai tradisional dan keberlanjutan lingkungan, terutama melalui prinsip Simatabaik yang menekankan penggunaan sumber daya yang bijaksana. Dalam konteks sosial, Baboi juga menawar kekuatan perempuan dalam struktur patriarki, sekaligus menjadi agen transformasi budaya di era modernisasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa Baboi bukan hanya figur spiritual, tetapi juga simbol ekologis feminis lokal yang menjaga hubungan etis antara manusia dan alam. Temuan-temuan ini memperkaya diskursus antropologi feminis dan ekologi budaya di kepulauan dengan menekankan pentingnya pengetahuan perempuan asli dalam sistem keberlanjutan sosial dan ekologis di daerah Mentawai.

Baboi sebagai Ibu Adat di Desa Sagulubbeg, Siberut Selatan, merepresentasikan figur perempuan asli yang memiliki peran multidimensional dalam menjaga keseimbangan sosial, spiritual, dan ekologis masyarakat Mentawai.Melalui sistem kepercayaan Arat Sabulungan, Baboi tidak hanya membantu mempertahankan tradisi dan pengetahuan asli, tetapi juga berfungsi sebagai otoritas epistimik yang menghubungkan manusia, alam, dan arwah leluhur dalam kesatuan kosmologis.Dalam konteks ini, peran dan posisi Baboi serta keterlibatan keseluruhan menunjukkan bahwa spiritualitas dan ekologi tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat.keduanya terintegrasi dalam praktik budaya sehari-hari yang diatur melalui simbol, ritual, dan nilai-nilai moral.Secara empiris, penelitian ini mengonfirmasi bahwa Baboi memainkan peran aktif dalam berbagai aspek kehidupan asli.mulai dari upacara ritual (Punen), pengembangan Uma, hingga pengelolaan sumber daya alam berdasarkan pengetahuan tradisional.Tubuh Baboi, melalui simbol-simbol seperti Titi Geilat dan Sipaggeu, menjadi teks budaya yang mengandung makna spiritual dan identitas ekologis perempuan Mentawai.Dalam kerangka ini, Baboi muncul sebagai agen transformasi yang menawar peran perempuan dalam sistem sosial yang cenderung patriarki, tanpa kehilangan akar nilai-nilai tradisional dan spiritualitas.Dengan demikian, sosok Baboi adalah representasi subjek ekologis perempuan, yang juga memainkan peran sentral dalam reproduksi pengetahuan lokal dan konservasi lingkungan.Melalui penelitian ini, terungkap bahwa kebijaksanaan ekologis perempuan asli tidak hanya simbolis, tetapi juga memiliki fungsi praktis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan identitas budaya Mentawai di tengah tekanan modernitas dan globalisasi.Secara ilmiah, penelitian tentang Baboi dapat menjadi subangsih yang memperkaya diskursus ekologi budaya dan antropologi feminis dengan menunjukkan bahwa konservasi alam dan budaya adalah praktik etis yang lahir dari pengalaman dan spiritualitas perempuan asli Mentawai, khususnya bagi figur Baboi di Desa Sagulubbeg.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi komparatif antara peran Baboi di berbagai desa di Mentawai, dengan mempertimbangkan perbedaan konteks sosial, budaya, dan ekologis. Selain itu, penelitian dapat fokus pada bagaimana pengetahuan ekologi Baboi dapat diterapkan dalam praktik konservasi lingkungan modern, serta bagaimana peran Baboi dapat diintegrasikan dalam kebijakan pengelolaan sumber daya alam di daerah tersebut. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi lebih lanjut bagaimana Baboi sebagai agen transformasi budaya, dapat membantu masyarakat Mentawai dalam menyesuaikan diri dengan perubahan sosial akibat modernisasi dan globalisasi, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional dan spiritualitas mereka.

  1. BABOI: THE TRADITIONAL MOTHER OF SAGULUBBEG MENTAWAI | International Journal of Social Science. baboi... doi.org/10.53625/ijss.v5i3.11709BABOI THE TRADITIONAL MOTHER OF SAGULUBBEG MENTAWAI International Journal of Social Science baboi doi 10 53625 ijss v5i3 11709
Read online
File size725.87 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test