POLTEKKES MATARAMPOLTEKKES MATARAM

Jurnal Gizi Prima (Prime Nutrition Journal)Jurnal Gizi Prima (Prime Nutrition Journal)

Latar belakang: Peradangan kolon dapat dipicu oleh infeksi gastrointestinal dan agen kimia seperti Dextran Sodium Sulfate (DSS). Peningkatan kadar glukosa darah meningkatkan resistensi insulin dan meningkatkan faktor pertumbuhan jenis insulin-1 (IGF-1), yang dapat berkontribusi pada risiko kanker. Pendekatan yang mungkin untuk memodulasi kondisi ini adalah melalui prebiotik yang terkandung dalam kepok banana, karena inulin dan pati resisten pada kepok banana berfungsi sebagai prebiotik alami. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh prebiotik berbasis kepok banana dan daun moringa terhadap kadar glukosa darah acak pada tikus Wistar yang terpapar Dextran Sodium Sulfate (DSS). Metode: Penelitian eksperimental riil dengan desain block acak (RBD) menggunakan lima kelompok perlakuan dan enam tikus per kelompok. Kadar glukosa darah dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dengan tingkat kepercayaan 95%. Data asupan pakan dan asupan pati kepok banana–moringa dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Administrasi pati kepok banana–moringa pada tikus yang dipicu DSS tidak secara signifikan memengaruhi asupan pakan atau mengurangi kadar glukosa darah (p=0,121). Respons paling menguntungkan diamati pada kelompok P2 (0,05 g/tik), yang menunjukkan kecenderungan menurunkan kadar glukosa darah pada tikus yang dipicu DSS. Kesimpulan: Pati kepok banana–moringa tidak secara signifikan mengurangi kadar glukosa darah pada tikus yang dipicu DSS, meskipun dosis P2 menunjukkan kecenderungan peningkatan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi dosis rendah, memperpanjang periode intervensi, dan memasukkan penanda metabolik tambahan seperti HbA1c, kadar insulin, dan pengujian indeks glikemik.

Pati kepok banana bersamaan dengan daun moringa tidak secara signifikan menurunkan asupan pakan atau menurunkan kadar glukosa darah pada tikus Wistar yang dipicu DSS, meskipun dosis rendah (0,05 g/tik) menunjukkan kecenderungan peningkatan gerak metabolik.Secara keseluruhan, intervensi ini tidak mempengaruhi parameter glukosa secara signifikan, dan penelitian lanjutan diperlukan untuk menilai efek jangka panjang, variasi dosis, serta penanda metabolik lainnya.

Sebelumnya, peneliti dapat mengevaluasi interaksi antara dosis rendah pati kepok banana–moringa dengan strategi diet lain yang menurunkan resistensi insulin, seperti asupan serat total yang lebih tinggi, untuk menentukan apakah efek kombinasinya lebih kuat. Kedua, pengembangan model eksperimental jangka panjang yang mencakup periode intervensi lebih lama (misalnya 90‑120 hari) dapat membantu mengamati perubahan metabolik yang masih belum terlihat dalam studi singkat. Ketiga, studi translasi pada hewan dapat dilengkapi dengan analisis mikrobiota fungsional dan metabolomik sistemik, guna mengidentifikasi perubahan skema mikrobiota dan metabolit yang berhubungan dengan penurunan glukosa dan peningkatan homeostasis hemoglobin. Kedua pendekatan ini akan memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai mekanisme kerja prebiotik dan potensi penerapannya dalam pencegahan gangguan metabolik pada kondisi peradangan usus.

  1. VARIASI WAKTU PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH PUASA PADA PENDERITA DIABETES MELITUS | Journal of Nursing and... jurnal.unived.ac.id/index.php/jnph/article/view/1444VARIASI WAKTU PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH PUASA PADA PENDERITA DIABETES MELITUS Journal of Nursing and jurnal unived ac index php jnph article view 1444
  2. HUBUNGAN KADAR HBA1C DAN LAMANYA DIABETES DENGAN RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT DARAH PADA PENDERITA DIABETES... ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/view/94813HUBUNGAN KADAR HBA1C DAN LAMANYA DIABETES DENGAN RASIO NEUTROFIL LIMFOSIT DARAH PADA PENDERITA DIABETES ojs unud ac index php eum article view 94813
Read online
File size395.13 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test