ALSHOBARALSHOBAR

Bridging Journal of Islamic Digital Economics and ManagementBridging Journal of Islamic Digital Economics and Management

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) terhadap financial distress pada perusahaan yang masuk dalam kategori Indonesian Top 50 Publicly Listed Companies (PLCs) tahun 2019. Financial distress diukur menggunakan Altman Z-Score dan variabel kontrol meliputi cash flow operations (CFO), firm size, leverage (DAR), serta profitabilitas (ROA). Dengan teknik purposive sampling, diperoleh 14 perusahaan sebagai sampel selama periode 2019-2023, menghasilkan 70 observasi. Analisis menggunakan regresi data panel Common Effect Model yang diolah dengan STATA 15. Hasil menunjukkan bahwa ACGS berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress pada tingkat signifikansi 10% (koefisien = 0,025; p = 0,050), yang mengindikasikan fenomena symbolic compliance—skor tata kelola tinggi tidak mencerminkan implementasi substansial yang mampu mencegah tekanan keuangan. Untuk variabel kontrol, firm size (p = 0,000) dan leverage (p = 0,000) berpengaruh negatif signifikan, sementara CFO (p = 0,057) dan ROA (p = 0,898) tidak signifikan. Model memiliki kekuatan penjelasan yang tinggi (Adj. R² = 91,99%). Temuan ini mengimplikasikan bahwa penerapan ACGS di Indonesia belum efektif mencegah financial distress dan masih bersifat kepatuhan formal, di mana perusahaan yang mengalami tekanan keuangan justru cenderung meningkatkan skor tata kelolanya sebagai strategi defensif.

Penelitian ini menguji pengaruh penerapan ACGS terhadap financial distress pada 14 perusahaan Indonesian Top 50 PLCs periode 2019-2023 (70 observasi) dengan variabel kontrol CFO, firm size, leverage, dan ROA.Temuan utama menunjukkan bahwa ACGS berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress (koefisien = 0,025.p = 0,050), yang mengonfirmasi fenomena symbolic compliance dalam penerapan tata kelola perusahaan di Indonesia.Temuan ini mengindikasikan bahwa perusahaan dengan skor ACGS yang lebih tinggi justru cenderung mengalami tingkat financial distress yang lebih tinggi—bukan karena tata kelola menyebabkan tekanan keuangan, melainkan karena perusahaan yang menghadapi tekanan keuangan cenderung meningkatkan kepatuhan formal sebagai strategi defensif.Signifikansi ACGS yang bersifat marginal (tepat di batas α = 10%) juga mengindikasikan bahwa pengaruhnya relatif lemah dibandingkan faktor struktural seperti firm size dan leverage yang secara konsisten signifikan sebagai variabel kontrol.R²), mengonfirmasi bahwa variabel-variabel dalam model secara kolektif mampu menjelaskan hampir seluruh variasi financial distress.Namun, kontribusi utama berasal dari variabel kontrol, bukan dari ACGS sendiri—memperkuat argumentasi bahwa ACGS belum menjadi prediktor ketahanan keuangan yang andal.

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah saran penelitian lanjutan:. . 1. Melakukan analisis per komponen ACGS untuk memahami dimensi tata kelola mana yang paling berpengaruh terhadap financial distress. Hal ini dapat memberikan wawasan lebih mendalam tentang aspek-aspek tata kelola yang perlu diperhatikan oleh perusahaan dan regulator.. . 2. Memasukkan variabel moderasi seperti manajemen laba atau kualitas audit dalam model penelitian. Variabel-variabel ini dapat membantu menjelaskan kondisi di mana ACGS mungkin lebih efektif dalam mencegah financial distress. Dengan demikian, penelitian dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang memperkuat atau melemahkan pengaruh ACGS.. . 3. Melakukan analisis per sektor industri untuk memahami apakah pengaruh ACGS terhadap financial distress bervariasi di antara sektor-sektor berbeda. Hal ini dapat memberikan rekomendasi yang lebih spesifik bagi regulator dan perusahaan dalam menerapkan ACGS secara efektif di berbagai sektor industri.

Read online
File size287.38 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test