IDID

JAMSIJAMSI

Kesehatan mental remaja merupakan isu penting dalam pendidikan sekolah menengah karena fase ini ditandai oleh kerentanan terhadap stres akademik, tekanan sosial, dan pencarian identitas diri. Keterbatasan rasio guru bimbingan dan konseling (BK) terhadap jumlah siswa mendorong perlunya strategi pendampingan alternatif yang partisipatif dan berkelanjutan. Kegiatan ini bertujuan mengetahui efektivitas pelaksanaan program pemberdayaan kader sahabat sebaya sebagai upaya membangun ekosistem sekolah yang peduli terhadap kesehatan mental remaja. Program dilaksanakan selama dua bulan di YPI Baitul Izzah Nganjuk dengan melibatkan 30 siswa SMP dan SMA sebagai kader sahabat sebaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan psikoedukasi berbasis pemberdayaan melalui enam tahapan, meliputi analisis kebutuhan, pembentukan komunitas guru BK, seleksi dan pelatihan kader, implementasi aksi sebaya, serta evaluasi dan pendampingan berkelanjutan. Evaluasi dilakukan menggunakan Retrospective Self-Assessment (RSA), observasi, refleksi, dan monitoring lapangan. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman dan keterampilan kader dari skor 57,2 menjadi 86,9 (p < 0,05). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan komunikasi kader sahabat sebaya dan hasil kegiatan mendapatkan respon positif dari siswa lainnya sebagai penerima manfaat. Disimpulkan bahwa program ini efektif memperluas jangkauan layanan kesehatan mental di sekolah dan memperkuat peran siswa sebagai agen dukungan sebaya sekaligus juga sebagai mitra dari guru BK.

Program pemberdayaan kader sahabat sebaya berhasil meningkatkan pemahaman, keterampilan komunikasi empatik, dan kesiapan siswa sebagai pendukung psikososial remaja.Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan skor pemahaman dan keterampilan kader.Implementasi aksi nyata, seperti sharing circle dan deep talk session, menciptakan ruang aman, menurunkan stigma psikologis, dan memperkuat iklim sekolah yang suportif terhadap kesehatan mental.Namun, keberlanjutan program masih terbatas karena waktu pelaksanaan singkat dan keterbatasan jangkauan, sehingga diperlukan konsistensi komunitas guru BK dan pendampingan jangka panjang.

Sebuah penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak jangka menengah program pemberdayaan kader sahabat sebaya dengan memperpanjang periode pendampingan hingga setahun dan menilai perubahan dalam kesejahteraan psikologis siswa serta tingkat kejadian masalah kesehatan mental. Penelitian selanjutnya juga dapat mengeksplorasi efektivitas integrasi teknologi digital—seperti aplikasi pelacak mood dan platform diskusi online—untuk memperluas jangkauan dukungan sebaya di luar lingkungan sekolah. Selain itu, riset lainnya dapat menilai peran media sosial dalam memfasilitasi atau menambah stigma terkait kesehatan mental, serta mengembangkan strategi intervensi yang menggabungkan moderasi profesional dengan keterlibatan peer support untuk mengurangi beban guru BK dan meningkatkan akses layanan konseling bagi seluruh siswa.

  1. KONSELING TEMAN SEBAYA (PEER COUNSELING) UNTUK MEREDUKSI KECANDUAN GAME ONLINE | Counsellia: Jurnal Bimbingan... doi.org/10.25273/counsellia.v6i1.453KONSELING TEMAN SEBAYA PEER COUNSELING UNTUK MEREDUKSI KECANDUAN GAME ONLINE Counsellia Jurnal Bimbingan doi 10 25273 counsellia v6i1 453
  2. Development of a training module for adolescent Peer Counsellors based on a systematic literature review... talenta.usu.ac.id/jppp/article/view/14503Development of a training module for adolescent Peer Counsellors based on a systematic literature review talenta usu ac jppp article view 14503
Read online
File size465.63 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test