UBUB

Journal of Entrepreneurship, Management and IndustryJournal of Entrepreneurship, Management and Industry

Menetapkan penyebab ketidaksesuaian dominan pada suatu proses adalah tujuan akhir dari penelitian ini, sehingga perusahaan mampu mengambil tindakan untuk perbaikan. Penelitian dilakukan di PT. Berdikari Metal Engineering yang dengan objek penelitian produk Dies Holder Comp Element. Permasalahan utama saat ini berkenaan dengan jumlah cacat yang masih tinggi yaitu mencapai 7,9%. Pada bulan Januari s/d Juni 2018, jumlah produksi mencapai 735.395 pcs dengan jumlah produk taksesuai sebesar 52.382 pcs. Metode penelitian studi kasus dengan analisis deskriptif kuantitatif sebagai dasar analisis, dan Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dipakai sebagai tools dalam penyelesaian masalah. Berdasarkan analisis lapangan menunjukan nilai RPN tertinggi ada pada proses pengecoran dengan nilai 400, sehingga perusahaan harus meningkatkan akurasi pada tahapan penghalusan material, pembolongan material dan proses penggulungan sehingga mencapai ketebalan 0,4 mm dan panjang 39,5 mm. Beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan perusahaan diantaranya adalah meningkatkan skill SDM terutama dalam proses ketelitian kerja, melakukan perubahan suhu udara pabrik, melakukan maintenance mesin. Dengan usulan tersebut diharapkan akan menurunkan ketaksesuaian produk mencapai 31%.

Beberapa kesimpulan terkait analisis kualitas produk dengan menggunakan metode FMEA adalah (1) PT.Berdikari Metal Engineering, memiliki masalah dalam tingginya nilai kecacatan produk yaitu mencapai 7,9% jauh di atas standar yaitu 2%.Permasalahan penyebab dan solusi untuk menurunkan kecacatan adalah dengan mengitung severity, occurence, dan detection.(2) Severity tertinggi didapat nilai sebesar 10 pada proses pembolongan, berikutnya adalah nilai 9 pada proses pemotongan, sementara terrendah ada pada proses penghalusan dengan nilai 6.Berdasarkan hal tersebut perusahaan harus memfokuskan perbaikan kualitas pada proses dengan nilai severity tinggi yaitu di tahap pembolongan dan pemotongan (3) Occurance tertinggi ada pada proses pembolongan dengan nilai 8 dan terrendah ada pada ketdatangan material yang terlambat.(4) Detection pada setiap tahapan proses bernilai sama yaitu 5 artinya bahwa perusahaan sudah menyatakan bahwa semua factor penyebab memiliki tingkat keseriusan yang sama dalam proses menyumbang kecacatan produk.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan juga bagian saran penelitian lanjutan, berikut adalah beberapa saran penelitian lanjutan yang baru. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh faktor lingkungan kerja, seperti suhu dan kelembaban, terhadap tingkat kesalahan operator dalam proses produksi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengukur parameter lingkungan kerja secara berkala dan mengkorelasikannya dengan data tingkat cacat produk. Kedua, perusahaan dapat mengembangkan sistem pelatihan yang lebih intensif dan terstruktur untuk meningkatkan keterampilan operator dalam mengoperasikan mesin dan melakukan inspeksi kualitas. Pelatihan ini sebaiknya mencakup simulasi praktik dan evaluasi kinerja secara berkala. Ketiga, perlu dilakukan studi komparatif antara metode FMEA dengan metode pengendalian kualitas lainnya, seperti Six Sigma, untuk mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan masing-masing metode dalam konteks industri manufaktur. Dengan demikian, perusahaan dapat memilih metode yang paling sesuai dengan karakteristik proses produksinya. Ketiga saran ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya meningkatkan kualitas produk dan efisiensi proses produksi di PT. Berdikari Metal Engineering.

Read online
File size508.92 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test