SINOMICSJOURNALSINOMICSJOURNAL

International Journal of Social Science, Education, Communication and EconomicsInternational Journal of Social Science, Education, Communication and Economics

Perubahan iklim semakin diakui sebagai pendorong utama perpindahan internal, terutama di negara-negara rapuh seperti Libya, di mana guncangan lingkungan bersinggungan dengan ketidakstabilan politik dan tata kelola yang lemah. Penelitian ini mengkaji bagaimana perpindahan internal akibat iklim memengaruhi kohesi sosial di kota-kota pesisir Libya, dengan fokus pada Tripoli, Misrata, dan Benghazi. Dengan menggunakan rancangan penelitian kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, dan observasi lapangan yang melibatkan orang-orang yang terlantar secara internal (IDP), anggota masyarakat penerima, serta pemangku kepentingan lokal. Temuan menunjukkan bahwa faktor lingkungan seperti kekeringan dan banjir telah memaksa populasi rentan untuk bermigrasi dari wilayah interior Libya ke pusat-pusat perkotaan pesisir. Perpindahan ini memberi tekanan pada layanan publik, memperparah persaingan atas sumber daya, dan menimbulkan ketegangan antara populasi yang terlantar dan masyarakat penerima. Kepercayaan sosial, dukungan timbal balik, dan akses terhadap layanan semuanya terganggu, sementara IDP sering menghadapi ketidaktampakan secara hukum, tekanan psikologis, dan marginalisasi. Meskipun demikian, penelitian ini mengidentifikasi inisiatif lokal yang menjanjikan yang telah mendorong integrasi dan membangun kembali ikatan sosial, termasuk program mata pencaharian bersama dan upaya tata kelola kota yang inklusif. Namun, upaya ini tetap terfragmentasi dan tidak berkelanjutan tanpa dukungan kebijakan yang lebih luas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk mencegah erosi lebih lanjut terhadap kohesi sosial, Libya harus mengadopsi kerangka hukum nasional untuk mengenali dan melindungi orang-orang yang terlantar akibat iklim, memperkuat kapasitas kota, serta mengintegrasikan pertimbangan perpindahan ke dalam perencanaan kota dan strategi adaptasi iklim. Artikel ini memberikan kontribusi terhadap kajian yang muncul mengenai migrasi iklim dan ketahanan perkotaan dengan menyajikan wawasan kontekstual yang berbasis pada realitas di lapangan tentang bagaimana perpindahan lingkungan mengubah kain sosial di wilayah pascakonflik.

Perpindahan internal yang dipicu iklim di Libya memperburuk kerentanan sistem perkotaan dan mengganggu kohesi sosial, karena masyarakat penerima merasa tertekan oleh sumber daya yang terbatas dan terjadi persaingan dengan pendatang baru.Kurangnya pengakuan hukum terhadap pelaku perpindahan akibat iklim serta fragmentasi tata kelola nasional menghambat respons yang terkoordinasi dan berbasis bukti.Namun, inisiatif lokal yang inklusif menunjukkan bahwa kohesi sosial dapat dipulihkan melalui pendekatan partisipatif, dukungan lembaga lokal yang dipercaya, dan kebijakan nasional yang terpadu mengenai perpindahan dan adaptasi iklim.

Pertama, perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji bagaimana sistem hukum adat dan jaringan kekerabatan di Libya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat integrasi sosial antara penduduk terlantar dan masyarakat penerima di kota pesisir. Kedua, penting untuk mengevaluasi efektivitas model perencanaan kota partisipatif yang melibatkan langsung IDP dalam pengambilan keputusan tata ruang dan pengelolaan sumber daya, guna mengurangi ketegangan sosial dan memperkuat kepemilikan kolektif. Ketiga, perlu dikaji potensi pengembangan sistem peringatan dini berbasis masyarakat yang dirancang khusus untuk daerah rawan iklim di Libya, sehingga dapat meningkatkan kesiapsiagaan, meminimalkan perpindahan mendadak, dan mendukung ketahanan jangka panjang kota-kota pesisir. Penelitian-penelitian ini dapat membantu merancang kebijakan yang lebih responsif, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perpindahan akibat iklim. Dengan memahami dinamika lokal, memperkuat partisipasi warga, dan membangun sistem proteksi dini, Libya dapat mengubah tantangan perpindahan menjadi peluang pembaruan sosial. Pendekatan semacam ini tidak hanya akan melindungi hak-hak manusia, tetapi juga memperkuat dasar kohesi sosial di tengah krisis iklim dan pemulihan pasca-konflik. Fokus pada solusi berbasis komunitas sangat penting mengingat lemahnya institusi nasional. Penelitian lanjutan harus mengeksplorasi bagaimana kepercayaan lokal dapat menjadi fondasi ketahanan urban. Tanpa pemahaman mendalam tentang konteks sosial dan budaya, intervensi dari luar berisiko gagal. Oleh karena itu, penelitian harus melibatkan aktor lokal sejak awal. Hasilnya dapat membentuk kebijakan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan rakyat Libya.

Read online
File size329.39 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test