UGMUGM

Berkala Ilmiah BiologiBerkala Ilmiah Biologi

Pelepasliaran burung pemangsa membutuhkan habitat yang sesuai untuk memastikan keberhasilan dan kelangsungan hidup satwa di alam. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penilaian habitat di kawasan Nglanggeran, Gunungkidul, sebagai lokasi potensial pelepasliaran burung pemangsa. Metode yang digunakan meliputi penjelajahan untuk mencari lokasi potensial pengamatan burung pemangsa; stasioner (4 stasiun) untuk mencatat jenis, jumlah individu, dan pergerakan burung pemangsa. Selain itu, juga dicatat jenis burung dan satwa lain yang potensial menjadi mangsa burung pemangsa. Potensi ancaman diperoleh melalui wawancara semi-struktural kepada warga di sekitar lokasi pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Nglanggeran adalah habitat alami bagi 8 ekor Elang ular bido (Spilornis cheela), 5 ekor Alap-alap sapi (Falco moluccensis), satu ekor Elang-alap cina (Accipiter soloensis), dan 5 ekor Sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus). Selain itu, tercatat 28 jenis burung lain dan 11 jenis satwa lainnya yang potensial menjadi sumber pangan burung pemangsa. Masyarakat setempat menyatakan bahwa perburuan telah dilarang di kawasan tersebut sehingga kawasan Nglanggeran cukup aman sebagai lokasi pelepasliaran burung pemangsa.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kawasan Nglanggeran di Gunungkidul memiliki potensi besar sebagai lokasi pelepasliaran burung pemangsa.Habitat yang didominasi vegetasi perkebunan dan pekarangan, keanekaragaman hayati yang mencakup mangsa potensial, serta dukungan regulasi lokal yang melarang perburuan, menjadikan kawasan ini sesuai untuk burung pemangsa yang teramati.Faktor keamanan, kesesuaian habitat, dan ketersediaan pakan mendukung keberlanjutan pelepasliaran burung pemangsa di kawasan ini.

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dipertimbangkan. Pertama, perlu dilakukan studi lebih mendalam mengenai preferensi mikrohabitat dari masing-masing jenis burung pemangsa yang ditemukan di Nglanggeran, seperti jenis pohon yang disukai untuk bersarang atau area berburu yang paling sering dikunjungi. Kedua, penting untuk memantau secara berkala populasi burung pemangsa yang dilepasliarkan, termasuk tingkat keberhasilan adaptasi, reproduksi, dan tingkat kematian, guna mengevaluasi efektivitas program pelepasliaran. Ketiga, penelitian lebih lanjut dapat difokuskan pada interaksi antara burung pemangsa dengan komunitas lokal, termasuk tingkat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya konservasi burung pemangsa dan potensi konflik yang mungkin timbul, serta mencari solusi untuk meminimalkan konflik tersebut. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih komprehensif untuk mendukung upaya konservasi burung pemangsa di Indonesia, khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, dan memastikan keberhasilan jangka panjang program pelepasliaran.

  1. Feasibility of the Nglanggeran Area, Indonesia as a Location for Releasing Birds of Prey | Berkala Ilmiah... journal.ugm.ac.id/v3/bib/article/view/18582Feasibility of the Nglanggeran Area Indonesia as a Location for Releasing Birds of Prey Berkala Ilmiah journal ugm ac v3 bib article view 18582
  2. KOMPARASI KERAGAMAN JENIS BURUNG-BURUNG DI TAMAN NASIONAL BALURAN DAN ALAS PURWO PADA BEBERAPA TIPE HABITAT... doi.org/10.23869/bphjbr.14.2.20091KOMPARASI KERAGAMAN JENIS BURUNG BURUNG DI TAMAN NASIONAL BALURAN DAN ALAS PURWO PADA BEBERAPA TIPE HABITAT doi 10 23869 bphjbr 14 2 20091
Read online
File size576.93 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test