UNMUNM

Indonesian Journal of School Counseling: Theory, Application, and DevelopmentIndonesian Journal of School Counseling: Theory, Application, and Development

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh bimbingan konseling kelompok berbasis terapi perilaku kognitif terhadap regulasi emosi santri di pondok pesantren. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu menggunakan satu kelompok pretest dan posttest. Subjek penelitian berjumlah sepuluh orang santri yang memiliki tingkat regulasi emosi rendah. Pengumpulan data menggunakan skala regulasi emosi yang mencakup lima dimensi. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji Wilcoxon karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor rata-rata regulasi emosi setelah intervensi. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi 0,005, yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi. Perhitungan efek menunjukkan nilai 0,89 yang termasuk kategori pengaruh besar. Temuan ini menunjukkan bahwa bimbingan konseling kelompok berbasis terapi perilaku kognitif efektif dalam meningkatkan regulasi emosi santri.

Konseling kelompok berbasis Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif dalam meningkatkan regulasi emosi santri di pesantren secara signifikan.Terdapat peningkatan skor rata-rata regulasi emosi dari 84 menjadi 102 setelah intervensi, dengan nilai signifikansi 0,005 dan efek size sebesar 0,89 yang termasuk kategori besar.Pendekatan CBT membantu santri mengubah pola pikir tidak adaptif menjadi lebih rasional dan konstruktif, sehingga mampu mengelola emosi secara lebih adaptif.

Penelitian lanjutan dapat menguji efektivitas intervensi konseling kelompok berbasis CBT pada populasi santri dari berbagai pesantren untuk melihat sejauh mana temuan ini dapat digeneralisasi di berbagai konteks lingkungan keagamaan. Selain itu, perlu dikaji pengaruh kombinasi CBT dengan pendekatan berbasis nilai-nilai religius untuk mengetahui apakah integrasi nilai keagamaan dapat memperkuat efektivitas regulasi emosi dalam setting pesantren. Studi berikutnya juga sebaiknya menggunakan desain eksperimen dengan kelompok kontrol dan tindak lanjut jangka panjang untuk mengevaluasi keberlanjutan perubahan regulasi emosi serta memastikan bahwa dampak terjadi karena intervensi CBT, bukan faktor eksternal seperti dukungan sosial atau motivasi pribadi. Dengan pendekatan seperti ini, peneliti dapat lebih memahami mekanisme terapi dalam konteks budaya dan keagamaan yang khas. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi peran variabel seperti keterlibatan keluarga atau tingkat religiusitas individu dalam memengaruhi hasil intervensi. Penelitian juga bisa menguji variasi teknik CBT yang lebih kaya, seperti penggunaan media digital atau pendekatan keluarga, untuk meningkatkan keterlibatan santri. Dengan menggabungkan elemen lokal dan kontekstual, intervensi bisa menjadi lebih relevan dan berkelanjutan. Penting pula untuk melihat apakah adaptasi CBT pada remaja pesantren membutuhkan modifikasi khusus dalam konten maupun metode penyampaiannya. Studi lanjutan yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ini akan memperkuat dasar ilmiah layanan bimbingan konseling di lingkungan keagamaan. Dengan demikian, layanan konseling dapat dikembangkan secara lebih terstruktur dan berdampak luas bagi kesejahteraan mental santri.

  1. Intervensi Konseling Kelompok Berbasis CBT terhadap Regulasi Emosi Santri | Salsabila | Indonesian Journal... doi.org/10.26858/ijosc.v5i1.71894Intervensi Konseling Kelompok Berbasis CBT terhadap Regulasi Emosi Santri Salsabila Indonesian Journal doi 10 26858 ijosc v5i1 71894
Read online
File size257 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test