IJRETINAIJRETINA

International Journal of RetinaInternational Journal of Retina

Latar belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah ketebalan Lapisan Serat Saraf Retina (Retinal Nerve Fiber Layer/RNFL) bermanfaat dalam mendeteksi tingkat kerusakan neurodegenerasi perifer pada pasien diabetes. Metode: Penelitian cross-sectional dilakukan dengan melibatkan 36 partisipan yang dibagi menjadi dua kelompok: 18 pasien diabetes mellitus tipe 2 (DM) dengan neuropati perifer diabetik (Diabetic Peripheral Neuropathy/DPN) dan 18 pasien DM tanpa DPN. Semua partisipan berusia 40-60 tahun dengan ketajaman visual terbaik yang dikoreksi lebih baik dari 0,2 logMAR. Pemeriksaan Optical Coherence Tomography (OCT) dilakukan untuk menentukan ketebalan RNFL, sedangkan pemeriksaan Electroneuromyography (ENMG) dan DNS-Ina Score digunakan untuk menegakkan diagnosis DPN. Data dianalisis menggunakan uji-t independen dan analisis korelasi Spearman. Hasil: Ketebalan RNFL rata-rata pada kelompok DM dengan DPN lebih tipis dibandingkan kelompok DM tanpa DPN (100,22 ± 38 vs 102,61 ± 9,11; p = 0,444). Pada kuadran temporal dan nasal, RNFL juga lebih tipis pada kelompok DM dengan DPN dibandingkan kelompok DM tanpa DPN (71,78 ± 12,21 vs 76,33 ± 8,53, p = 0,203; dan 75,11 ± 11,38 vs 77,39 ± 14, p = 0,596). Amplitudo sural dan tibial (14,44 ± 2,87 dan 6,85 ± 4,98) merupakan nilai prediktor paling signifikan dalam menentukan tingkat keparahan DPN (p = 0,000). Ketebalan RNFL rata-rata, temporal, dan nasal memiliki hubungan invers dengan tingkat keparahan DPN (r = -0,285; -0,258; dan -0,126). Kesimpulan: RNFL lebih tipis pada kuadran rata-rata, temporal, dan nasal pada kelompok DM dengan DPN dibandingkan dengan kelompok DM tanpa DPN. Ketebalan RNFL memiliki hubungan invers dengan tingkat keparahan DPN meskipun tidak signifikan secara statistik.

Penelitian ini menemukan bahwa RNFL lebih tipis pada kuadran rata-rata, temporal, dan nasal pada kelompok DM dengan DPN dibandingkan dengan kelompok DM tanpa DPN.Meskipun demikian, hubungan ini tidak signifikan secara statistik.Temuan ini menunjukkan potensi RNFL sebagai indikator neurodegenerasi pada pasien diabetes, namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi signifikansi klinisnya.Penggunaan OCT untuk menilai ketebalan RNFL dapat menjadi alat skrining tambahan dalam deteksi dini dan pemantauan perkembangan DPN.

Berdasarkan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian longitudinal dengan ukuran sampel yang lebih besar untuk mengevaluasi perubahan ketebalan RNFL dari waktu ke waktu dan hubungannya dengan perkembangan DPN. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada identifikasi faktor-faktor risiko yang mempengaruhi ketebalan RNFL pada pasien diabetes, seperti kontrol glikemik, tekanan darah, dan durasi diabetes. Ketiga, penelitian dapat mengeksplorasi potensi terapi yang dapat meningkatkan ketebalan RNFL dan mencegah atau memperlambat perkembangan DPN, seperti intervensi nutrisi atau olahraga. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang peran RNFL dalam patogenesis DPN dan mengidentifikasi strategi pencegahan dan pengobatan yang efektif.

  1. RETINAL NERVE FIBER LAYER THICKNESS ASSOCIATED WITH SEVERITY OF DIABETIC PERIPHERAL NEUROPATHY IN DIABETES... ijretina.com/index.php/ijretina/article/view/320RETINAL NERVE FIBER LAYER THICKNESS ASSOCIATED WITH SEVERITY OF DIABETIC PERIPHERAL NEUROPATHY IN DIABETES ijretina index php ijretina article view 320
Read online
File size643.7 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test