INABAINABA

Journal of Business and Management InabaJournal of Business and Management Inaba

Meningkatnya jumlah kedai kopi lokal non-franchise merupakan pertanda baik bagi sektor kewirausahaan sosial. Upaya mereka dalam membuka peluang kerja dan meningkatkan kesejahteraan sosial sangat dihargai. Selama pandemi Covid-19, berbagai kedai kopi lokal non-franchise berusaha mempertahankan keberlanjutan usahanya. Salah satunya dapat diketahui melalui budaya organisasi. Dalam penelitian ini, budaya organisasi kedai kopi lokal non-franchise diukur menggunakan instrumen Organization Culture Inventory (OCI), yang melibatkan 43 karyawan milenial dan tiga pemilik dari tujuh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kedai kopi lokal non-franchise di Bandung, Jawa Barat. Hasil menunjukkan bahwa secara umum, kedai kopi lokal non-franchise di Bandung didominasi oleh dimensi Konstruktif yang terdiri atas aspek-aspek berikut: Humanistik/Mendorong = 82,3%; Afiliatif = 83,5%; Pencapaian = 79,9%; dan Aktualisasi Diri = 75,1%. Pernyataan ini menunjukkan bahwa berbagai kedai kopi non-franchise mendukung setiap karyawan untuk berinteraksi satu sama lain, baik antar karyawan maupun dengan pelanggan. Dalam menyelesaikan tugas, mereka mengutamakan pendekatan saling membantu yang dapat mendukung antusiasme dan aktualisasi diri karyawan di tempat kerja.

Budaya organisasi kedai kopi lokal non-franchise di Bandung didominasi oleh dimensi Konstruktif, yang menunjukkan bahwa lingkungan kerja mendukung interaksi antar karyawan dan pelanggan serta pendekatan saling membantu dalam bekerja.Dimensi Humanistik/Mendorong dan Pencapaian menunjukkan adanya harapan untuk meningkatkan kepedulian terhadap rekan kerja dan mengejar standar kerja yang lebih tinggi.Budaya organisasi tersebut sangat berbeda dari budaya defensif atau agresif, mencerminkan pendekatan partisipatif dan berbasis kemanusiaan yang mendukung keterlibatan aktif dan kepuasan kerja karyawan.

Pertama, perlu penelitian lanjutan yang membandingkan budaya organisasi antara karyawan kedai kopi lokal non-franchise dengan kedai kopi waralaba di kota yang sama untuk melihat pengaruh kepemilikan dan sistem manajemen terhadap pola interaksi dan nilai kerja. Kedua, penting untuk mengkaji bagaimana generasi milenial membentuk budaya kerja yang inklusif dan inovatif melalui pendekatan kewirausahaan sosial, khususnya dalam konteks pengelolaan sumber daya manusia di UMKM berbasis komunitas. Ketiga, perlu studi mendalam tentang efektivitas program internal, seperti pelatihan kreativitas dan pengembangan diri, dalam menutup kesenjangan budaya organisasi, terutama pada aspek Humanistik/Mendorong dan Pencapaian, guna menciptakan lingkungan kerja yang lebih ideal dan berkelanjutan. Penelitian-penelitian ini dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana UMKM lokal mempertahankan relevansi dan ketahanan di tengah persaingan dan perubahan sosial. Dengan demikian, temuan dari studi-studi tersebut dapat menjadi dasar bagi pengembangan model manajemen yang adaptif dan berbasis nilai sosial bagi usaha kecil di perkotaan.

Read online
File size511.08 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test