UNIVEDUNIVED

Just a moment...Just a moment...

Film adalah medium seni yang berpengaruh kuat dalam masyarakat, berperan sebagai sumber hiburan, pendidikan, dan pembentuk perspektif sosial melalui pengalaman audio-visual. *A Little Thing Called Love*, sebuah film Thailand yang disutradarai oleh Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong, menceritakan tentang perjuangan seorang gadis bernama Nam dalam meraih perhatian Shone, siswa populer di sekolahnya. Film ini mengangkat isu rasisme dan standar kecantikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tindakan rasis yang digambarkan dalam film Thailand *A Little Thing Called Love*. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi. Teori Roland Barthes tentang analisis semiotik digunakan untuk menganalisis representasi rasisme dan standar kecantikan dalam film, terutama melalui denotasi, konotasi, dan mitos yang tercermin dalam karakter dan alur cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa *A Little Thing Called Love* menyampaikan pesan berlapis melalui analisis semiotik pada tingkat denotatif, konotatif, dan mitos. Dialog seperti Dasar Hitam! pada menit 06:51 mencerminkan bias rasial dan tekanan sosial terhadap standar kecantikan, yang berdampak pada rasa minder karakter Nam. Pada menit 35:15, dialog Mereka semua jelek menyoroti dinamika pengelompokkan sosial berbasis penampilan, sedangkan dialog pada menit 35:57, Jika tidak yakin kalau cantik, bisa ke klub yang lain, mempertegas ekspektasi terhadap kecantikan fisik. Klimaks pada menit 1:51:56 menggambarkan transformasi Nam menjadi pribadi yang percaya diri, memberikan pesan bahwa nilai seseorang terletak pada pencapaian dan kepercayaan diri, bukan semata penampilan.

Film A Little Thing Called Love dianalisis menggunakan pendekatan semiotik Roland Barthes, yang membedah makna melalui tiga tingkatan.51) menggambarkan hubungan hierarkis guru-murid secara denotatif, sementara konotasi dan mitosnya menyoroti bias warna kulit dan stereotip kecantikan di masyarakat Thailand.Hal ini berdampak pada Nam, karakter utama, yang menjadi minder akibat bullying verbal.15, adegan siswa perempuan mencela anggota klub drama mencerminkan norma sosial yang mendasarkan penghargaan pada kecantikan fisik.Denotasinya adalah interaksi sehari-hari di sekolah, sementara konotasi dan mitosnya mengungkap pengelompokan sosial dan tekanan standar kecantikan.Komentar seperti Mereka semua jelek menciptakan dampak psikologis, seperti rasa minder dan stres.Adegan romantis, seperti pemberian bunga dengan latar pencahayaan dramatis, merepresentasikan cinta secara konotatif dan mitos cinta ideal yang sering didiktekan media.Film ini tidak hanya mengangkat isu kecantikan, hierarki sosial, dan romansa, tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang penerimaan diri.Transformasi Nam menjadi simbol perlawanan terhadap norma sosial yang mengekang, sekaligus mendorong penonton untuk mengevaluasi dampak stereotip dalam kehidupan.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan analisis perbandingan representasi tindakan rasis dalam film-film dari berbagai negara di Asia Tenggara, yang akan memberikan wawasan tentang perbedaan pola dan pengaruh historis dalam representasi rasisme di layar. Selain itu, fokus pada pengaruh representasi tindakan rasis dalam film terhadap persepsi penonton muda, khususnya bagaimana film ini membentuk atau memperkuat stereotip rasial, dapat menjadi arah penelitian yang menarik. Penelitian tentang strategi naratif dalam film Thailand untuk menyampaikan pesan sosial, seperti rasisme, juga dapat membantu mengungkap bagaimana elemen-elemen naratif tersebut digunakan untuk mengkritik atau merefleksikan isu-isu sosial dalam masyarakat.

Read online
File size262.76 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test