POLTEK STPAULPOLTEK STPAUL

Electro LuceatElectro Luceat

Energi terbarukan adalah sumber energi yang berasal alam yang mampu digunakan dengan bebas, mampu diperbarui terus-menerus serta tak terbatas jumlahnya. Indonesia memiliki potensi energi surya yang melimpah. Meskipun potensi melimpah namun pemanfaatan energi surya untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sampai 2020 baru 153,8 MW atau 0,07% dari potensi yang ada. Selain itu pemerintah terus mendorong transformasi energi di Indonesia dari energi fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT), salah satunya melalui pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang bersumber dari Energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat desain PLTS atap 300 kWp untuk SPKLU di PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya. Kajian desain meliputi kelayakan aspek teknis, lingkungan, dan ekonomi dengan menggunakan Software Hybrid Optimization of Multiple Energy Resources (HOMER) PRO Versi 3.2. Hasil penelitian menunjukkan konfigurasi sistem terbaik secara on grid dengan kelayakan ekonomi NPC(Rp) = 1,06B, COE = 69,96 Rp/kWh, dan PBP = 16 tahun. Tersedianya potensi energi matahari yang cukup besar dengan rata-rata 4,76 kWh/m2/hari dan pemanfaatan EBT yang besar dengan renewable fraction 68,6%. Total produksi energi (kWh/tahun) dari PLTS atap 632,038 atau 72,3% dari sistem. Dampak penurunan emisi gas rumah kaca berupa karbon dioksida 313,96 Kg/tahun, sulfur dioksida 4,583 Kg/tahun, dan nitrogen oksida 361,7 Kg/tahun.

Berdasarkan hasil penelitian perancangan desain PLTS atap untuk SPKLU, dapat disimpulkan bahwa.Desain PLTS atap dapat diimplementasikan untuk SPKLU di kantor PT PLN Unit Induk Distribusi Jakarta Raya menggunakan konfigurasi sistem on grid dengan kelayakan ekonomi NPC(Rp) = 1,06B, COE = 69,95 Rp/kWh, PBP = 16 tahun.Potensi sumber daya matahari yang cukup besar dengan rata-rata 4,76 kWh/m2/hari dan pemanfaatan energi terbarukan yang besar dengan nilai renewable fraction 66,7%.Total produksi energi (kWh/tahun) dari PLTS atap sebesar 632,038 atau 72,3% dari sistem.Terdapat penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) seperti karbon dioksida 153,1 Kg/tahun, sulfur dioksida 664 Kg/tahun, nitrogen oksida 325 Kg/tahun.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan studi komparatif antara PLTS atap dengan sistem energi terbarukan lainnya, seperti pembangkit listrik tenaga angin, untuk menentukan konfigurasi sistem yang paling optimal dan ekonomis untuk SPKLU di berbagai lokasi dengan karakteristik sumber daya yang berbeda. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan sistem penyimpanan energi (battery energy storage system/BESS) yang terintegrasi dengan PLTS atap untuk meningkatkan keandalan dan stabilitas pasokan listrik ke SPKLU, terutama pada saat cuaca buruk atau malam hari. Ketiga, perlu dilakukan analisis lebih mendalam mengenai dampak sosial dan ekonomi dari pengembangan PLTS atap untuk SPKLU terhadap masyarakat sekitar, termasuk potensi penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Read online
File size1.28 MB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test