UNISLAUNISLA

E-LINK JOURNALE-LINK JOURNAL

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis gaya bahasa yang digunakan dalam film The Queen. Secara khusus, penelitian ini berfokus pada analisis klasifikasi gaya bahasa dengan mengacu pada teori Martin Joos (1962). Penelitian ini menjadi sangat penting untuk dianalisis karena gaya bahasa yang digunakan oleh pembicara memiliki seperangkat unsur yang unik terkait dengan komunitas formal. Secara linguistik, gaya bahasa yang digunakan oleh para pembicara memang ada karena perbedaan keadaan dan tingkatan, di mana formalisme tetap terlibat. Penelitian ini dikategorikan sebagai studi kualitatif deskriptif karena menganalisis data dalam bentuk kata. Data dikumpulkan dari naskah film The Queen. Peneliti menjadikan dirinya sendiri sebagai instrumen kunci untuk menemukan pernyataan masalah. Namun, dari klasifikasi gaya bahasa yang diusulkan oleh Joos, film ini menunjukkan data empiris bahwa gaya bahasa yang digunakan oleh Ratu Elizabeth hanya ditemukan empat gaya, yaitu gaya konsultatif, kasual, intim, dan formal. Gaya konsultatif terjadi ketika Ratu Elizabeth berpartisipasi dua arah dengan karakter lain atau dalam bentuk dialog, baik percakapan terjadi dengan keluarga, orang asing, maupun rekan kerjanya. Selanjutnya, Ratu Elizabeth menggunakan gaya kasual ketika ia merasa orang yang berbicara dengannya adalah sekelompok teman yang memiliki hubungan dekat. Oleh karena itu, terkadang ia menghilangkan beberapa kata lemah di awal kalimat karena ia berasumsi bahwa karakter lain memahami maksudnya. Namun, ia hanya menggunakan gaya intim untuk keluarga kerajaannya. Meskipun ia hanya memberikan sedikit petunjuk kepada keluarga kerajaannya, hal tersebut telah membuat keluarga kerajaannya memahami maksudnya. Selain itu, gaya formal digunakan oleh karakter utama saat menyampaikan pidato di program televisi, yang ditandai dengan partisipasi satu arah.

Penelitian ini menganalisis gaya bahasa yang digunakan dalam film The Queen menggunakan teori Martin Joos.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ratu Elizabeth hanya menggunakan empat dari lima gaya bahasa yang diusulkan, yaitu konsultatif, kasual, intim, dan formal, sementara gaya beku tidak ditemukan.Penerapan masing-masing gaya bergantung pada konteks percakapan.gaya konsultatif untuk dialog dua arah, gaya kasual dengan teman dekat, gaya intim secara eksklusif kepada keluarga kerajaan, dan gaya formal saat pidato di televisi.

Penelitian selanjutnya bisa mengembangkan temuan ini dengan cara membandingkan gaya bahasa yang digunakan oleh semua tokoh utama dalam film, seperti perdana menteri dan anggota keluarga kerajaan lainnya, untuk melihat apakah perbedaan status dan hubungan kekuasaan memengaruhi pilihan gaya bahasa mereka dalam situasi yang sama. Selain itu, menarik juga untuk menyelidiki apakah temuan ini berlaku untuk film dengan genre yang berbeda, misalnya film komedi romantis atau laga yang juga menampilkan karakter dari kalangan formal, untuk mengetahui apakah genre film memengaruhi representasi gaya bahasa. Terakhir, sebuah studi bisa fokus mengungkap alasan mengapa gaya bahasa paling formal, yaitu gaya beku (frozen style), tidak ditemukan dalam film ini, dengan menganalisis naskah film lain dan membahas apakah gaya bahasa ini sudah tidak relevan lagi dalam percakapan modern di media film atau hanya digunakan dalam konteks seremonial tertentu yang tidak ditampilkan.

  1. #speaking skill#speaking skill
  2. #madrasah aliyah#madrasah aliyah
Read online
File size775.04 KB
Pages9
Short Linkhttps://juris.id/p-11l
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test