IIESECOREIIESECORE

EDUCATIONEEDUCATIONE

Penggunaan media sosial oleh remaja yang semakin intens telah diikuti dengan peningkatan risiko cyberbullying, yaitu bentuk agresi daring yang dapat mengganggu kesejahteraan psikologis, interaksi sosial, dan fungsi akademik. Studi ini bertujuan untuk mengkaji bentuk, faktor-faktor penyebab, dampak, dan strategi pencegahan cyberbullying pada remaja melalui tinjauan literatur deskriptif. Studi ini menganalisis 15 artikel ilmiah nasional dan internasional yang diterbitkan antara tahun 2015 dan 2025. Artikel-artikel tersebut diidentifikasi melalui Google Scholar, Semantic Scholar, ScienceDirect, dan Garuda menggunakan kata kunci “cyberbullying, “adolescents, dan “social media. Proses seleksi menerapkan kriteria inklusi terkait relevansi topik, fokus pada populasi remaja, periode publikasi, dan ketersediaan teks lengkap. Studi yang dipilih dianalisis melalui analisis konten dan sintesis tematik, termasuk reduksi data, pengkodean, kategorisasi, dan interpretasi pola-pola yang berulang. Tinjauan ini menunjukkan bahwa bentuk cyberbullying yang paling sering terjadi meliputi hinaan daring, body shaming, impersonasi, pengucilan sosial, dan penyebaran konten yang memalukan. Faktor-faktor penyebab utama adalah anonimitas, literasi digital yang rendah, tekanan teman sebaya, perilaku oversharing, dan pengawasan orang tua yang terbatas. Dampak utama meliputi kecemasan, depresi, penurunan harga diri, penarikan sosial, dan penurunan kinerja akademik. Temuan menunjukkan bahwa pencegahan cyberbullying memerlukan pendidikan literasi digital terpadu, pengawasan keluarga, dukungan konseling berbasis sekolah, dan perlindungan tingkat kebijakan. Sintesis berbasis literatur ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih koheren tentang cyberbullying pada remaja dan menyoroti pentingnya upaya pencegahan kolaboratif di era digital.

Tinjauan literatur ini menunjukkan bahwa cyberbullying pada remaja di era digital muncul dalam berbagai bentuk, termasuk hinaan, penghinaan, impersonasi, pengucilan sosial, dan penyebaran konten yang memalukan melalui media sosial dan platform pesan digital.Studi yang ditinjau mengindikasikan bahwa fenomena ini dibentuk oleh anonimitas, literasi digital yang rendah, pengaruh teman sebaya, perilaku oversharing, dan pengawasan orang tua yang terbatas.Konsekuensinya sangat besar, mulai dari kecemasan, depresi, dan penurunan harga diri hingga penarikan sosial dan penurunan kinerja akademik.Tinjauan ini juga menegaskan bahwa pencegahan memerlukan respons kolaboratif dan berkelanjutan yang melibatkan keluarga, sekolah, konselor, komunitas, dan pembuat kebijakan.

Berdasarkan tinjauan literatur ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, penelitian kuantitatif dapat dilakukan untuk mengidentifikasi prevalensi cyberbullying di berbagai wilayah di Indonesia, dengan mempertimbangkan faktor-faktor sosiodemografi dan karakteristik penggunaan media sosial. Kedua, penelitian kualitatif dapat mengeksplorasi pengalaman subjektif remaja yang menjadi korban atau pelaku cyberbullying, untuk memahami lebih dalam motivasi, dampak emosional, dan strategi koping yang mereka gunakan. Ketiga, penelitian intervensi dapat dirancang untuk menguji efektivitas program pendidikan literasi digital dan keterampilan sosial dalam mencegah cyberbullying di sekolah dan komunitas. Pengembangan program-program ini perlu mempertimbangkan konteks budaya dan karakteristik unik remaja Indonesia, serta melibatkan partisipasi aktif dari orang tua, guru, dan tokoh masyarakat.

Read online
File size125.08 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test