UNDANAUNDANA

Buletin Ilmiah IMPASBuletin Ilmiah IMPAS

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan media sosial dalam penyuluhan pertanian untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang teknik budidaya padi, serta untuk mengidentifikasi kendala yang dihadapi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan 38 petani yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa platform media sosial yang paling umum digunakan adalah WhatsApp dan Facebook (100%), diikuti oleh YouTube (78,9%). WhatsApp dianggap paling efektif karena mendukung komunikasi langsung antara petani dan petugas penyuluhan. Facebook digunakan tetapi dianggap kurang praktis karena kontennya yang berfokus pada hiburan. YouTube bermanfaat untuk video penyuluhan tetapi dibatasi oleh kendala data internet. Kendala utama dalam menggunakan media sosial adalah kemampuan finansial yang terbatas untuk membeli data internet dan akses internet yang lemah di beberapa daerah.

Penggunaan media sosial dalam penyuluhan pertanian di Desa Baumata menunjukkan peran berbeda pada setiap platform.WhatsApp dominan untuk informasi pemilihan benih, YouTube digunakan untuk pengendalian hama dan penyakit, sedangkan Facebook lebih banyak digunakan untuk informasi pasca panen.Kendala utama yang dihadapi petani meliputi keterbatasan akses internet, keterbatasan kemampuan ekonomi untuk membeli kuota data, serta rendahnya literasi digital.Untuk meningkatkan efektivitas penyuluhan, diperlukan perbaikan infrastruktur jaringan, keterjangkauan akses internet, dan pelatihan literasi digital bagi petani.

Pertama, perlu diteliti bagaimana model penyuluhan hybrid yang menggabungkan media sosial dan pertemuan langsung dapat meningkatkan pemahaman petani di daerah dengan akses internet terbatas, terutama dalam penerapan teknik budidaya padi secara berkelanjutan. Kedua, perlu dikaji efektivitas platform media sosial berbasis video pendek seperti TikTok atau YouTube Shorts dalam menyampaikan informasi pertanian secara sederhana dan menarik bagi petani muda, termasuk bagaimana konten tersebut dapat dirancang agar sesuai dengan konteks lokal dan tingkat literasi digital mereka. Ketiga, penting untuk mengevaluasi pengaruh program pelatihan literasi digital berbasis komunitas terhadap kemandirian petani dalam mencari informasi, berkolaborasi dengan penyuluh, dan memanfaatkan media sosial sebagai alat pengambilan keputusan pertanian jangka panjang. Penelitian lanjutan sebaiknya fokus pada integrasi ketiga aspek ini dalam satu sistem penyuluhan digital yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis kebutuhan petani lokal. Dengan demikian, intervensi tidak hanya meningkatkan akses informasi, tetapi juga membangun kapasitas petani dalam memanfaatkan teknologi secara mandiri. Studi juga perlu mempertimbangkan peran kelompok tani dan penyuluh dalam memfasilitasi transformasi digital, serta bagaimana model seperti ini dapat direplikasi di wilayah pedesaan lain dengan karakteristik serupa. Pendekatan penelitian kualitatif dan kuantitatif campuran dapat digunakan untuk mengukur perubahan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku petani sebelum dan setelah intervensi. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa desain teknologi dan konten penyuluhan memperhatikan faktor budaya, bahasa lokal, dan keterbatasan infrastruktur. Hasil penelitian ini akan memberikan panduan konkret bagi pengembangan kebijakan penyuluhan pertanian berbasis digital di tingkat desa. Dengan pendekatan yang tepat, media sosial dapat menjadi alat pemberdayaan yang efektif bagi petani di wilayah terpencil.

Read online
File size319.58 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test