YCNYCN

GUIDELINE: JURNAL BIMBINGAN KONSELING DAN PSIKOLOGI PENDIDIKANGUIDELINE: JURNAL BIMBINGAN KONSELING DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . Perguruan tinggi merupakan lembaga penting dalam pengembangan potensi intelektual, emosional, dan sosial mahasiswa, namun tingginya tuntutan akademik dapat menimbulkan tekanan psikologis. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner skala Likert yang mencakup aspek jumlah, tingkat kesulitan, serta tenggat waktu tugas, dan diadaptasi dari instrumen DASS-21 (Depression Anxiety Stress Scale) untuk mengukur tingkat kesehatan mental mahasiswa. Sampel penelitian diambil secara stratified random sampling dari berbagai fakultas di UIN Gusdur Pekalongan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat beban tugas kuliah yang dirasakan mahasiswa berada pada kategori rendah hingga sedang, dan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kesehatan mental. Mahasiswa mampu beradaptasi dengan baik terhadap tekanan akademik melalui manajemen waktu, dukungan sosial, dan bimbingan dosen. Namun, beberapa mahasiswa mengalami gejala ringan seperti gangguan tidur dan penurunan motivasi belajar. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk menyeimbangkan tuntutan akademik dengan literasi kesehatan mental serta penerapan strategi manajemen stres di kalangan mahasiswa.

Beban tugas kuliah yang dirasakan mahasiswa UIN Gusdur Pekalongan berada pada kategori rendah hingga sedang dan tidak berpengaruh signifikan terhadap kesehatan mental mereka.Mahasiswa mampu beradaptasi dengan tuntutan akademik melalui manajemen waktu, dukungan sosial, dan bimbingan dosen, serta memiliki ketahanan mental yang baik.Meskipun demikian, gejala ringan seperti gangguan tidur, kelelahan emosional, dan penurunan motivasi belajar tetap perlu mendapat perhatian sebagai indikator awal gangguan mental.

Penelitian selanjutnya perlu menguji bagaimana kecerdasan emosional memengaruhi hubungan antara beban tugas kuliah dan kesehatan mental mahasiswa, karena faktor ini berpotensi menjadi moderator yang memperkuat ketahanan mental. Selain itu, perlu dikaji lebih dalam peran dukungan sosial dari teman sebaya dan keluarga dalam mengurangi stres akademik, mengingat lingkungan sosial dapat menjadi sumber utama dalam penyesuaian diri. Penelitian juga sebaiknya mengembangkan sistem deteksi dini kesehatan mental berbasis teknologi, seperti model Rule Based Reasoning, agar dapat diintegrasikan ke dalam sistem kampus untuk memantau kondisi mental mahasiswa secara proaktif dan real-time. Gabungan ketiga pendekatan ini akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dan solusi yang lebih terukur terhadap isu kesehatan mental di perguruan tinggi. Dengan melibatkan variabel psikososial dan memanfaatkan teknologi, penelitian lanjutan dapat merancang intervensi yang tidak hanya reaktif tetapi juga preventif. Oleh karena itu, kajian mendalam terhadap gaya belajar dan pola interaksi digital mahasiswa juga perlu dieksplorasi untuk melihat dampaknya terhadap kesejahteraan mental. Sistem pendidikan perlu memastikan bahwa penilaian akademik tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga pada proses kesehatan mental mahasiswa selama masa studi. Penelitian ke depan juga dapat membandingkan pengalaman mahasiswa lintas fakultas untuk mengidentifikasi ketimpangan beban tugas dan respons stres yang berbeda. Kajian longitudinal sangat diperlukan untuk melihat perkembangan kesehatan mental seiring waktu, bukan hanya dari data sekilas. Dengan menggabungkan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan teknologi, perguruan tinggi dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih sehat, seimbang, dan manusiawi.

Read online
File size210.85 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test