UNIMAUNIMA

Journal of English Language and Literature TeachingJournal of English Language and Literature Teaching

Metonimia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengungkapan dalam bentuk penggunaan nama untuk objek lain yang merupakan merek, ciri khas, atau atribut. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kata atau frasa yang mengacu pada pengungkapan metonimia dalam Bahasa Melayu Manado serta menjelaskan maknanya berdasarkan konteks sesuai hubungan leksikal semantik. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif di kalangan mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Inggris di UNIMA. Data kemudian dianalisis sesuai tahapan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan ujaran metonimik ditemukan dalam 5 kategori berdasarkan teori Lakoff dan Johnson, yaitu: wadah untuk isi, bagian untuk keseluruhan, wajah untuk orang, tempat untuk institusi, serta produsen untuk produk. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi, setiap penutur harus memahami makna sesuai konteks ujaran tersebut.

Metonimia merupakan penggunaan ide dalam bentuk kata dan frasa dalam ujaran untuk menggantikan dan mewakili ide lain berdasarkan keterkaitan atau hubungan dekat antar ide dalam pengalaman sehari-hari.Ekspresi metonimia dalam Bahasa Melayu Manado memiliki acuan terhadap hal-hal yang terkait sesuai konteksnya.Ekspresi metonimia dalam Bahasa Melayu Manado terdiri dari lima kategori menurut teori Lakoff dan Johnson (1980), yaitu wadah untuk isi, bagian untuk keseluruhan, wajah untuk orang, tempat untuk institusi, dan produsen untuk produk.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai bagaimana ekspresi metonimia dalam Bahasa Melayu Manado digunakan oleh generasi muda di media sosial, mengingat pergeseran konteks komunikasi dari lisan ke digital dapat memengaruhi makna dan pemahaman metonimia. Kedua, diperlukan studi komparatif antara Bahasa Melayu Manado dengan dialek Melayu daerah lain di Indonesia untuk melihat kesamaan dan perbedaan dalam penggunaan metonimia, sehingga dapat diketahui pola umum atau kekhasan khusus dalam penggunaan figuratif bahasa Melayu di berbagai daerah. Ketiga, perlu dikaji bagaimana pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah memperlakukan ekspresi metonimia dari bahasa daerah, termasuk apakah ekspresi tersebut dianggap sebagai bentuk kesalahan atau justru diapresiasi sebagai kekayaan linguistik, yang dapat menjadi dasar pengembangan pendekatan pembelajaran bahasa yang lebih inklusif dan kontekstual.

Read online
File size218.75 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test