UNSUNS

Journal of Biodiversity and BiotechnologyJournal of Biodiversity and Biotechnology

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tahapan fenologi kritis dan menetapkan standar kualitas panen untuk varietas anggur unggul lokal, Prabu Bestari, mengingat terbatasnya data ilmiah yang tersedia untuk mengoptimalkan budidaya di dataran rendah. Studi ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, pada ketinggian (0–9) meter di atas permukaan laut (mdpl) dari bulan Juni hingga Oktober 2024. Induksi bunga dicapai melalui manipulasi lingkungan dan nutrisi, diawali dengan stres air total selama 30 hari sebelum pemangkasan, diikuti dengan aplikasi pupuk NPK 50g (dengan rasio P dan K tinggi) dan kejutan air berikutnya. Pemangkasan produksi (pemangkasan tunas) dilakukan dengan mempertahankan 3-5 mata tunas per cabang.

Siklus fenologi anggur Prabu Bestari sangat cepat, selesai dalam 120 Hari Setelah Pemangkasan (HSP), sehingga memerlukan manajemen waktu yang tepat dalam budidaya.Transisi cepat dari pecah tunas ke inisiasi bunga (18–19 hari) adalah fase kritis yang membutuhkan aplikasi nutrisi dan perlakuan spesifik secara tepat waktu untuk mengoptimalkan potensi produksi.Oleh karena itu, pemangkasan harus disesuaikan dengan musim kemarau agar fase pematangan buah terpapar radiasi matahari dan suhu tinggi, guna mencapai warna dan tingkat Gula Terlarut Total (TSS) optimal sebesar ±17°Brix sesuai standar anggur meja non-klimakterik.

Penelitian tentang dinamika fenologi dan kualitas anggur Prabu Bestari ini telah memberikan dasar ilmiah yang penting untuk budidaya di dataran rendah. Namun, masih banyak ruang untuk pengembangan lebih lanjut guna mengoptimalkan potensi varietas unggul lokal ini. Salah satu arah penelitian lanjutan yang sangat menjanjikan adalah memperluas cakupan studi ke lokasi-lokasi dataran rendah lain yang memiliki karakteristik lingkungan sedikit berbeda, atau bahkan mencakup area dengan ketinggian yang lebih bervariasi hingga batas toleransi 300 meter di atas permukaan laut. Dengan begitu, kita bisa melihat bagaimana perbedaan iklim mikro dan kondisi tanah memengaruhi kecepatan siklus pertumbuhan bunga hingga buah, serta kualitas akhir seperti tingkat kemanisan dan warna anggur. Ini akan membantu petani di berbagai daerah untuk menyesuaikan praktik budidaya mereka. Selain itu, investigasi lebih mendalam terhadap metode induksi bunga yang berbeda juga sangat diperlukan. Penelitian bisa mengeksplorasi variasi durasi stres air sebelum pemangkasan, atau menguji kombinasi dan dosis pupuk NPK dengan rasio P dan K yang berbeda, untuk menemukan protokol yang paling efisien dalam merangsang pembungaan dan pembuahan optimal, sekaligus berpotensi meningkatkan hasil panen. Terakhir, mengingat pentingnya paparan sinar matahari dan suhu saat fase pematangan buah (veraison) untuk menghasilkan warna dan kemanisan yang ideal, penelitian selanjutnya dapat fokus pada penentuan ambang batas spesifik dari intensitas cahaya matahari dan suhu. Dengan mengetahui angka pasti ini, petani bisa menerapkan strategi budidaya yang lebih presisi, seperti penggunaan naungan atau irigasi yang terkontrol, agar kualitas buah tetap prima di tengah tantangan perubahan iklim.

Read online
File size551.28 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test