UIN WALISONGOUIN WALISONGO

Psikohumaniora: Jurnal Penelitian PsikologiPsikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi

Faktor protektif dan faktor resiko adalah hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam rangka mengurangi kerentanan remaja terhadap penyalahgunaan obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerentanan terhadap penyalahgunaan obat-obatan ditinjau dari perbedaan gender, pada wilayah beresiko tinggi berdasarkan Badan Nasional Anti Narkotika di Malaysia yaitu di Sabak Bernam, Dungun, Johor Bahru, dan Kuala Kedah. Penelitian ini menggunakan metode survey, sebanyak 213 orang remaja (52,1% laki-laki, 47,9% perempuan) yang memenuhi kriteria inklusi mengisi kuesioner. Kuesioner terdiri dari 5 aspek, yaitu: profil demografis, konflik interpersonal, emosi negatif, dukungan sosial, dan kesehatan mental. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan inferensial. Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada aspek konflik interpersonal (t=-0,556, p>0,05), emosi negatif (t=0,131, p>0,05), dan kesehatan mental berdasarkan jenis kelamin (t=-0,898, p>0,05). Namun demikian, terdapat perbedaan yang signifikan pada aspek dukungan sosial (t=-2,046, p<0,05), di mana subjek perempuan (37,13) menunjukkan rata-rata skor yang lebih tinggi dibandingkan subjek laki-laki (34,83). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa sangat penting untuk mengetahui faktor yang relevan agar penyalahgunaan obat-obatan dapat diidentifikasi dan dicegah sejak dini.

Penelitian ini menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan dalam konflik interpersonal, emosi negatif, dan kesehatan mental antara remaja laki-laki dan perempuan, tetapi terdapat perbedaan pada dukungan sosial di mana perempuan memiliki skor lebih tinggi.Oleh karena itu, memberikan dukungan sosial yang lebih intensif kepada remaja laki-laki dapat menjadi strategi utama untuk mencegah keterlibatan mereka dalam penyalahgunaan obat-obatan.Selain itu, keterbatasan seperti homogenitas responden dari wilayah berisiko tinggi dan distribusi kuesioner tanpa penjelasan mendalam menunjukkan perlunya penelitian lanjutan yang lebih inklusif dan terstruktur untuk memahami faktor kerentanan secara lebih komprehensif.

Untuk mengatasi keterbatasan distribusi kuesioner secara acak tanpa penjelasan mendalam di wilayah berisiko tinggi, penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi bagaimana pelatihan pemahaman instrumen pengukuran yang disesuaikan dengan usia remaja memengaruhi akurasi data tentang faktor risiko seperti konflik interpersonal dan emosi negatif. Selain itu, mengingat perbedaan dukungan sosial antara gender, studi longitudinal dapat dilakukan untuk menyelidiki apakah program peningkatan dukungan sosial yang difokuskan pada remaja laki-laki di area hotspot dapat mengurangi kerentanan jangka panjang terhadap penyalahgunaan obat-obatan dibandingkan dengan kelompok perempuan. Akhirnya, berdasarkan kebutuhan modul rehabilitasi khusus remaja, penelitian selanjutnya bisa mengembangkan dan menguji efektivitas intervensi berbasis keterampilan sosio-emosional, seperti pengambilan keputusan dan penolakan teman sebaya, yang terintegrasi dengan faktor protektif seperti dukungan keluarga, untuk mencegah perilaku berisiko di kalangan remaja Malaysia.

  1. #mental remaja#mental remaja
  2. #muslim women#muslim women
Read online
File size192.83 KB
Pages12
Short Linkhttps://juris.id/p-XD
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test