UMDUMD

Jurnal Ilmiah SatyagrahaJurnal Ilmiah Satyagraha

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tradisi megibung serta untuk mengetahui sejarah megibung. Tradisi Megibung diperkenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi. Tradisi ini dibawa oleh I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem saat menang perang dalam menaklukan kerajaan-kerajaan di Sasak, Lombok. Dahulu, saat prajurit sedang makan, Sang Raja membuat aturan makan bersama dalam posisi melingkar yang dinamakan Megibung. Bahkan, Sang Raja ikut makan bersama dengan para prajuritnya. Tata cara megibung yaitu warga menyiapkan makanan di atas nampan yang sudah dialasi daun pisang. Nasi utih yang diletakkan di wadah itu disebut gibungan, sedangkan lauk dan sayurnya disebut karangan atau selaan. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan yaitu bahwa tradisi megibung ini terdapat beberapa nilai yang terkandung yaitu terdiri dari: (1) Nilai kekeluargaan, (2) Nilai kebersamaan, (3) Nilai religius, dan (4) Nilai toleransi.

Tradisi megibung merupakan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai etika, moral, dan kesopanan tinggi serta mampu mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan tanpa membedakan status sosial.Proses pelaksanaannya yang melibatkan gotong royong menunjukkan semangat kolektif masyarakat Desa Adat Asak.Untuk menjaga kelestariannya, tradisi ini perlu diintegrasikan ke dalam peraturan desa dan dipromosikan melalui media digital agar dikenal lebih luas.

Pertama, perlu diteliti bagaimana integrasi tradisi megibung ke dalam kebijakan resmi desa pakraman dapat memengaruhi partisipasi generasi muda dalam pelestarian budaya. Kedua, bagaimana strategi pemasaran digital berbasis media sosial dapat meningkatkan daya tarik megibung bagi wisatawan domestik dan mancanegara tanpa mengubah makna sakralnya. Ketiga, perlu dikaji dampak pergeseran pola makan dari megibung ke prasmanan terhadap kohesi sosial dan identitas budaya masyarakat Karangasem di tengah arus globalisasi. Penelitian-penelitian ini dapat mengungkap hubungan antara pelestarian tradisi, dinamika sosial, dan pembangunan pariwisata berkelanjutan. Studi lanjutan bisa membandingkan desa-desa yang masih mempertahankan megibung dengan yang telah beralih ke pola makan modern. Pendekatan kualitatif dan kuantitatif dapat digunakan untuk mengukur perubahan sikap masyarakat terhadap tradisi. Hasilnya bisa menjadi dasar pengembangan model pariwisata budaya yang inklusif dan berkelanjutan. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi peran perempuan dalam pelaksanaan megibung, mengingat adanya pemisahan gender dalam praktik terkini. Penelitian juga bisa mengevaluasi efektivitas pembelajaran budaya megibung di sekolah-sekolah sekitar. Temuan dari penelitian-penelitian ini akan memperkaya upaya konservasi budaya berbasis komunitas.

Read online
File size242.13 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test