UNAIUNAI

Jurnal Koinonia: Fakultas Filsafat Universitas Advent IndonesiaJurnal Koinonia: Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Artikel ini berjudul Self-Sufficiency Versus Theosufficiency menganalisis konsep kemandirian atau otonomi yang bernilai tinggi dalam ekonomi, gereja, dan masyarakat. Konsep ini, meskipun secara fungsional menarik, dianggap tidak mencerminkan hakikat gereja yang sejatinya bukan autonomia melainkan koinomia dan teonomia. Artikel ini mengusulkan reposisi semantik terhadap kemandirian dalam relasi dengan realitas ontologis tubuh Kristus. Dua jenis kemandirian diidentifikasi: pertama, kemandirian antroposentris yang berpusat pada manusia dan bersifat ateistik; kedua, kemandirian teosentris yang mengandalkan Tuhan dalam mencapai keseimbangan vital (autarkeia), yang pada dasarnya merupakan bentuk ketergantungan kepada Tuhan sesuai pandangan teosentris gereja.

Manusia, khususnya orang Kristen, tidak dapat benar-benar mandiri secara absolut karena kemandirian sejati hanya dimiliki oleh Tuhan.Orang percaya seharusnya hidup dalam ketercukupan ilahi (theosufficiency), yaitu ketergantungan penuh kepada Tuhan sebagai sumber segala pemeliharaan dan keberhasilan.Perlu terjadi pergeseran paradigma dari otonomi menuju koinomia, dari kemandirian manusia menuju ketergantungan teologis dalam menjalankan misi gereja.

Pertama, perlu diteliti bagaimana konsep theosufficiency dapat diterapkan dalam konteks ekonomi gereja lokal di negara berkembang, khususnya dalam mengelola keuangan jemaat tanpa bergantung pada bantuan luar, namun tetap berlandaskan ketergantungan rohani kepada Tuhan. Kedua, layak dikaji secara empiris bagaimana komunitas jemaat yang menerapkan prinsip koinomia menunjukkan ketahanan sosial dan spiritual dibandingkan komunitas yang cenderung otonom, terutama dalam menghadapi krisis ekonomi atau pandemi. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi model pendidikan pastoral yang mampu membentuk mentalitas theosufficiency sejak dini di kalangan pemuda gereja, sehingga generasi muda tidak hanya dilatih keterampilan hidup namun juga dibentuk ketergantungannya kepada Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Penelitian-penelitian ini dapat membantu memperdalam pemahaman teologis sekaligus memberikan panduan praktis bagi pembentukan komunitas gereja yang seimbang secara rohani dan struktural. Dengan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan teologi, sosiologi, dan ekonomi mikro, studi lanjutan dapat mengungkap bagaimana ketergantungan kepada Tuhan justru memperkuat kemandirian fungsional jemaat. Fokus pada konteks budaya lokal sangat penting agar konsep theosufficiency tidak dianggap sebagai doktrin pasif, melainkan sebagai fondasi aktif untuk pemberdayaan berbasis iman. Penelitian juga bisa melihat peran tata kelola gereja dalam mendorong siklus ekonomi internal jemaat, seperti dalam tradisi komunitas iman lainnya. Pendekatan kualitatif melalui studi kasus intensif akan memberikan gambaran mendalam tentang dinamika keseimbangan theostatik dan ekklesiostatik. Hasil temuan dapat digunakan untuk menyusun kurikulum pelatihan kepemimpinan rohani yang terintegrasi. Akhirnya, penelitian ini membuka ruang untuk mengembangkan indikator theosufficiency yang dapat diukur secara pastoral, sehingga konsep teologis ini menjadi relevan dan aplikatif bagi kehidupan gereja masa kini.

Read online
File size179.3 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test