UNAIUNAI

Jurnal Koinonia: Fakultas Filsafat Universitas Advent IndonesiaJurnal Koinonia: Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Artikel ini secara kritis mengkaji perspektif teologi pembebasan terhadap keterlibatan politik gereja, dengan fokus khusus pada asal-usulnya di Amerika Latin, landasan hermeneutika, serta implikasi teologisnya. Berakar dari perjuangan sosio-politik abad ke-20, teologi pembebasan muncul sebagai respons terhadap kemiskinan sistemik, penindasan, dan ketidakadilan, serta menyerukan keterlibatan aktif gereja dalam mengubah struktur sosial, ekonomi, dan politik yang tidak adil. Dengan merujuk pada teolog-teolog utama seperti Gustavo Gutiérrez, Leonardo Boff, dan Jon Sobrino, penelitian ini menganalisis penggunaan narasi alkitabiah—khususnya Kisah Keluaran—dan interpretasi terhadap pelayanan Yesus sebagai secara inheren politis. Menggunakan metode deskriptif-evaluatif melalui penelitian kepustakaan dan analisis kritis sumber primer dan sekunder, artikel ini mengeksplorasi bagaimana teologi pembebasan mendefinisikan keselamatan sebagai praksis historis dan Kerajaan Allah sebagai panggilan terhadap keadilan revolusioner. Meskipun mengakui penekanan profetik gerakan terhadap pilihan preferensial bagi kaum miskin, artikel ini juga mengkritisi potensi reduksionisme dalam hermeneutika alkitabiah dan ketegangan dengan pemahaman tradisional mengenai misi Kristus yang dianggap non-politis. Diskusi diakhiri dengan kesimpulan bahwa meskipun teologi pembebasan memberikan koreksi penting terhadap keterpisahan gereja dari penderitaan, kerangka politiknya perlu diintegrasikan secara hati-hati dengan tema teologis yang lebih luas seperti dosa, anugerah, dan eskatologi agar tidak terjebak dalam ideologi. Evaluasi ini memberikan kontribusi terhadap wacana teologis kontemporer dengan menawarkan penilaian seimbang terhadap relevansi dan keterbatasan teologi pembebasan.

Teologi pembebasan merupakan gerakan teologis yang berakar pada perjuangan kaum miskin dan tertindas melawan ketidakadilan sosial, ekonomi, dan politik.Gerakan ini menekankan keterlibatan aktif gereja dalam transformasi struktur yang menindas, dengan menginterpretasikan keselamatan sebagai praksis historis dan Kerajaan Allah sebagai tuntutan keadilan revolusioner.Namun demikian, keterlibatan politik gereja harus dievaluasi secara kritis agar tetap selaras dengan prinsip-prinsip alkitabiah dan tidak terjebak dalam ideologi tertentu.

Pertama, perlu diteliti bagaimana teologi pembebasan dapat dikembangkan dalam konteks non-Latin yang memiliki struktur penindasan berbeda, seperti di Asia atau Afrika, untuk melihat apakah model eksodus dan perjuangan kelas tetap relevan atau perlu diadaptasi secara teologis. Kedua, penting untuk mengeksplorasi bagaimana konsep Kerajaan Allah dalam teologi pembebasan dapat diintegrasikan dengan ajaran tradisional tentang eskatologi dan anugerah, agar keterlibatan politik gereja tidak mengabaikan dimensi spiritual dan personal dari keselamatan. Ketiga, perlu dilakukan studi kritis terhadap potensi reduksionisme hermeneutika pembebasan yang terlalu fokus pada narasi Keluaran, dengan membandingkannya terhadap narasi lain seperti pelayanan Hamba Suffering di Kitab Yesaya atau pengajaran Yesus tentang salib, untuk membangun pendekatan teologis yang lebih seimbang antara keadilan sosial dan pengorbanan pribadi. Penelitian-penelitian ini akan melengkapi kritik terhadap teologi pembebasan yang disampaikan dalam artikel dan memperkaya diskursus teologis mengenai keterlibatan gereja dalam politik tanpa mengorbankan kedalaman doktrinal.

  1. Liberation Theology: An Introduction to Its History and Themes - GOWLER - 1986 - Counseling and Values... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/j.2161-007X.1986.tb00471.xLiberation Theology An Introduction to Its History and Themes GOWLER 1986 Counseling and Values onlinelibrary wiley doi 10 1002 j 2161 007X 1986 tb00471 x
Read online
File size228.02 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test