ISBIISBI

Pascasarjana ISBI Bandung Conference SeriesPascasarjana ISBI Bandung Conference Series

Teori karawitan Sunda khususnya tentang laras, surupan, patet, dan lagon tidak pernah berkembang (stagnan). Apabila dihitung dari kurun waktu terbitnya buku Ilmu Seni Raras (1969), sudah hampir 56 tahun teori karawitan Sunda karya Rd. Machjar Angga Koesoemadinata berjalan di tempat (tidak mengalami kemajuan) walaupun beberapa tulisan dari peneliti asing telah menyampaikan kritikannya terhadap teori karawitan Sunda tersebut. Fenomena ini merupakan permasalahan krusial yang perlu segera ditindaklanjuti (melalui penelitian ulang yang berkelanjutan) karena teori karawitan Sunda tidak hanya digunakan sebagai materi pembelajaran di sekolah-sekolah seni dan perguruan tinggi seni, tetapi juga digunakan sebagai acuan dalam praktik memainkan karawitan Sunda. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, perlu dikemukakan beberapa hal yang mendasari keraguan para peneliti asing terhadap teori karawitan Sunda Rd. Machjar Angga Koesoemadinata dan mengapa teori karawitan Sunda perlu dikaji ulang melalui penelitian yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis dan diskusi terhadap teori laras, surupan, patet, dan lagon ditemukan titik kelemahan teori karawitan Sunda yang disebabkan oleh cara berpikir yang terlalu berorientasi pada teori musik Barat. Dengan demikian, sudah saatnya teori karawitan Sunda dikaji ulang, diteliti kembali, dan dikembangkan sesuai dengan sifat dan karakteristik “ilmu itu sendiri yang seharusnya diperkaya dan dikembangkan secara berkelanjutan sesuai dengan perkembangan praktik karawitannya itu sendiri.

Machjar Angga Koesoemadinata memerlukan tindak lanjut melalui diskusi, penelitian, pengalian, pengukuran, dan analisis untuk mengatasi berbagai persoalan baik secara praktis maupun teoretis.Kritikan dari peneliti asing harus ditanggapi positif sebagai tantangan untuk mengembangkan teori karawitan Sunda sesuai dengan perkembangan praktiknya.Dengan demikian, dalam menyongsong generasi emas, kita perlu melangkah ke depan dengan bertolak dari karya Rd.Machjar Angga Koesoemadinata sebagai tonggak sejarah lahirnya teori karawitan Sunda.

Berdasarkan permasalahan yang diidentifikasi dalam penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian mendalam mengenai validitas dan relevansi teori laras dan surupan Rd. Machjar Angga Koesoemadinata dengan praktik musikal kontemporer karawitan Sunda, menggunakan metode pengukuran frekuensi yang lebih akurat dan komprehensif. Kedua, penelitian perlu difokuskan pada penggalian dan rekonstruksi konsep-konsep musikal Sunda yang mungkin tidak tercakup dalam teori yang ada, dengan melibatkan seniman tradisional sebagai sumber pengetahuan utama. Ketiga, studi komparatif antara teori karawitan Sunda dengan teori musik dari budaya lain, khususnya yang memiliki sistem tangga nada dan modal yang berbeda, dapat memberikan perspektif baru dalam memahami keunikan dan kompleksitas musik Sunda. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang karawitan Sunda, serta berkontribusi pada pengembangan teori yang lebih komprehensif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Read online
File size163.4 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test