TRI GUNA DHARMATRI GUNA DHARMA

Jurnal Cyber TechJurnal Cyber Tech

Kesehatan pada anak-anak terutama balita usia 2 bulan sampai 5 tahun lebih rentan terhadap penyakit salah satunya yaitu penyakit TB paru pada anak. Kejadian tuberkulosis paru pada anak disebabkan oleh Mycobacterium tuberkulosis. Anak merupakan kelompok risiko tinggi terkena TB karena kekebalan tubuh yang belum optimal. Pemberian terapi pencegahan pada anak terinfeksi TB akan mengurangi anak menderita sakit TB. Penyakit TB bila tidak diobati atau pengobatan yang tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya bagi tubuh hingga kematian serta berisiko menularkan ke orang lain. Dalam membantu pihak puskesmas tuntungan untuk mendeteksi penyakit TB paru pada anak serta mencegah penularan TB paru pada anak maka dibutuhkan sebuah sistem pakar dengan menggunakan metode teorema bayes. Dengan menggunakan metode tersebut maka pihak puskesmas dapat dengan cepat mendeteksi anak yang mengidap penyakit TB paru. Berdasarkan dari penelitian ini, sistem pakar yang dibangun mampu mendeteksi anak yang menderita TB paru. Anak yang mengalami TB paru dikelompokan menjadi tiga tingkatan mulai dari TB ringan, TB sedang serta TB berat. Nantinya setiap tingkatan TB paru yang dialami oleh anak tersebut akan mendapatkan jenis pengobatan yang berbeda berdasarkan tingkatan TB yang dialami oleh anak.

Penerapan algoritma teorema bayes dalam sistem pakar mampu membantu petugas puskesmas Tuntungan dalam mendiagnosis penyakit TB paru pada anak secara lebih cepat dan terstruktur melalui aplikasi berbasis desktop.Sistem ini mempermudah proses diagnosis dan pembuatan laporan hasil diagnosa untuk setiap pasien yang berkonsultasi.Berdasarkan perhitungan, pasien yang dikonsultasikan diketahui menderita TB paru berat dengan nilai kepastian 62%, yang lebih tinggi dibandingkan tingkat ringan dan sedang.

Pertama, perlu dikembangkan penelitian untuk menguji akurasi sistem pakar berbasis teorema bayes ini pada populasi anak dari wilayah lain di luar Puskesmas Tuntungan, guna mengevaluasi kemampuan generalisasi sistem dalam konteks geografis dan demografis yang berbeda. Kedua, dapat dilakukan studi lanjutan untuk mengintegrasikan data hasil pemeriksaan medis objektif seperti foto toraks dan uji tuberkulin ke dalam sistem, sehingga diagnosis tidak hanya mengandalkan gejala subjektif yang dilaporkan, namun juga didukung data klinis langsung. Ketiga, penelitian berikutnya bisa mengeksplorasi pengembangan versi mobile dari sistem ini agar lebih mudah diakses oleh petugas kesehatan di lapangan maupun masyarakat, serta dilengkapi fitur pelacakan perkembangan pasien secara berkala untuk memantau efektivitas pengobatan dari waktu ke waktu. Kombinasi ketiga pendekatan ini akan memperkuat validitas, keterandalan, dan kemanfaatan sistem dalam skala yang lebih luas.

Read online
File size1010.02 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test