PBNSURABAYAPBNSURABAYA

Jurnal Penelitian MultidisiplinJurnal Penelitian Multidisiplin

Pendahuluan: Komunikasi efektif merupakan komponen krusial dalam pelayanan kesehatan, terutama dalam konteks peran perawat sebagai garda terdepan dalam pelayanan rawat inap. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk diketahuinya gambaran distribusi frekuensi respect dalam komunikasi efektif perawat di ruang rawat inap, diketahuinya gambaran distribusi frekuensi empathy dalam komunikasi efektif perawat diruang rawat inap, diketahuinya gambaran distribusi frekuensi audible dalam komunikasi efektif perawat diruang rawat inap, diketahuinya gambaran distribusi frekuensi clarity dalam komunikasi efektif perawat diruang rawat inap, diketahuinya gambaran distribusi frekuensi humble dalam komunikasi efektif perawat di ruang rawat inap. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode Accidental Sampling terhadap 35 pasien yang telah menjalani perawatan lebih dari 24 jam di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Madina Bukittinggi pada tanggal 1 Mei sampai 16 Mei 2025. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup. Hasil: Temuan penelitian menunjukkan bahwa masih ada prinsip komunikasi efektif yang belum diterapkan secara optimal oleh perawat, dengan rincian: Respect (17% kurang baik), Empathy (22% kurang baik), Audible (12% kurang baik), Clarity (20% kurang baik), dan Humble (18% kurang baik). Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa sebagian perawat belum menerapkan prinsip-prinsip komunikasi efektif sepenuhnya perawat masih kurang memahami kondisi emosional dan perasaan pasien, suara perawat saat menyampaikan informasi kurang jelas dan terdengar oleh pasien, sebagian besar komunikasi perawat tidak jelas dan tidak mudah dipahami, kerendahan hati perawat juga kurang baik terhadap pasien. komunikasi yang dilakukan perawat secara umum masih perlu ditingkatkan, terutama dalam aspek apresiasi, kejelasan pesan, dan keterbukaan. Oleh karena itu, pelatihan rutin dan evaluasi berkala diperlukan untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan pelayanan di rumah sakit.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagian besar perawat di Rumah Sakit Umum Madina Bukittinggi belum sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip komunikasi efektif, terlihat dari kurangnya pemahaman emosi pasien, kejelasan suara dan pesan, serta kerendahan hati.Secara umum, komunikasi perawat masih memerlukan peningkatan, khususnya dalam aspek apresiasi, kejelasan informasi yang disampaikan, dan keterbukaan.Oleh karena itu, disarankan agar rumah sakit menyelenggarakan pelatihan rutin dan evaluasi berkala untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.

Berdasarkan temuan penelitian yang mengidentifikasi adanya celah dalam penerapan prinsip komunikasi efektif oleh perawat di rawat inap, beberapa arah penelitian lanjutan yang prospektif dapat dieksplorasi. Pertama, sangat penting untuk melakukan studi intervensi untuk mengevaluasi efektivitas program pelatihan komunikasi yang dirancang khusus. Pertanyaan penelitian dapat berfokus pada: Sejauh mana pelatihan komunikasi berbasis simulasi yang mencakup prinsip Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humble (REACH) dapat secara signifikan meningkatkan keterampilan komunikasi perawat dan, pada gilirannya, kepuasan serta pengalaman positif pasien selama perawatan di rumah sakit? Penelitian ini bisa menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan kelompok intervensi dan kontrol untuk mengukur dampak objektif dan subjektif. Kedua, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai akar permasalahan, diperlukan penelitian kualitatif. Meskipun penelitian deskriptif kuantitatif ini telah mengidentifikasi area yang kurang optimal, studi kualitatif dapat menggali perspektif perawat mengenai hambatan dan tantangan yang mereka hadapi dalam menerapkan komunikasi efektif di lingkungan kerja yang padat, serta mengeksplorasi pengalaman pasien yang merasa kurang diperhatikan atau tidak memahami informasi yang diberikan. Pertanyaan seperti: Apa saja faktor internal (misalnya, beban kerja, stres, kurangnya pelatihan) dan eksternal (misalnya, lingkungan rumah sakit, karakteristik pasien) yang memengaruhi penerapan prinsip komunikasi efektif oleh perawat dari sudut pandang perawat dan pasien? akan memberikan wawasan berharga untuk pengembangan intervensi yang lebih tepat sasaran. Terakhir, mengukur dampak jangka panjang dari peningkatan komunikasi perawat terhadap luaran klinis pasien dan efisiensi operasional rumah sakit merupakan area yang krusial. Setelah intervensi pelatihan diterapkan, penting untuk meneliti: Bagaimana peningkatan kualitas komunikasi perawat berkorelasi dengan durasi rawat inap pasien, angka kejadian komplikasi, tingkat readmisi, atau kepatuhan pasien terhadap rencana perawatan setelah keluar dari rumah sakit? Studi kohort prospektif atau studi kasus-kontrol dapat memberikan bukti empiris mengenai kontribusi langsung komunikasi efektif terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien secara holistik. Saran-saran penelitian ini akan melengkapi temuan deskriptif yang ada dan mendorong pengembangan praktik keperawatan yang lebih berpusat pada pasien.

  1. Komunikasi Pendidikan (Urgensi Komunikasi Efektif dalam Proses Pembelajaran) | JOPPAS: Journal of Public... journal.ipm2kpe.or.id/index.php/JOPPAS/article/view/2385Komunikasi Pendidikan Urgensi Komunikasi Efektif dalam Proses Pembelajaran JOPPAS Journal of Public journal ipm2kpe index php JOPPAS article view 2385
Read online
File size349.46 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test