MACHUNGMACHUNG

Citradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan IntermediaCitradirga : Jurnal Desain Komunikasi Visual dan Intermedia

Krisis identitas pada remaja berpotensi membuat remaja melakukan kegiatan negatif. Remaja dalam mencari jati diri ada beberapa bentuk problem perilaku yang paling umum dialami yang berakar pada hambatan dalam proses perkembangan, yaitu depresi, kenakalan, dan penyalahgunaan narkotika. Perancangan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses merancang motion comic sebagai media edukasi untuk remaja dalam memahami identitasnya. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah Design Thinking, kemudian metode perolehan data yang digunakan perancang yaitu menggunakan analisis 5W 1H, wawancara, studi literasi, dokumen, dan pencarian di internet, dengan pendekatan kualitatif. Hasil uji coba alfa dan beta dari perancangan motion comic cerita Bima dan Dewa Ruci untuk krisis identitas pada remaja, dapat diambil kesimpulan bahwa, video motion comic bisa digunakan untuk penunjang media pembelajaran, akan tetapi untuk perubahan psikologi dan karakter, tayangan video motion comic dengan alur cerita yang disampaikan belum efektif.

Hasil perancangan berupa motion comic berjudul Lelaku dengan durasi 29 menit telah dipublikasikan di YouTube dan mendapat respons positif dari penonton usia 18–24 tahun.Uji coba terhadap 29 siswa menunjukkan bahwa media ini tergolong cukup baik sebagai penunjang pembelajaran krisis identitas, meskipun belum efektif dalam mengubah psikologi dan karakter remaja.Diperlukan pengembangan lebih lanjut terkait tokoh, visual, audio, dan penyampaian pesan agar lebih menarik dan relevan bagi remaja.

Pertama, perlu dikembangkan motion comic dengan tokoh wayang yang lebih modern atau disisipkan karakter populer di kalangan remaja saat ini, untuk meningkatkan ketertarikan dan relevansi mereka terhadap cerita. Kedua, penelitian lanjutan bisa mengeksplorasi variasi penggunaan suara dan narasi, seperti dengan melibatkan pengisi suara profesional atau gaya bahasa gaul, agar audio lebih dinamis dan tidak monoton seperti kartun lama. Ketiga, perlu diteliti efektivitas cerita pewayangan yang diadaptasi dengan alur cerita lebih interaktif atau berbasis pilihan, sehingga remaja tidak hanya menonton tetapi juga diajak merefleksikan identitas mereka lewat simulasi situasi batin tokoh utama, untuk mendorong perubahan psikologis yang lebih nyata.

Read online
File size732.34 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test