JQWHJQWH

Journal for Quality in Women's HealthJournal for Quality in Women's Health

Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan maupun perilaku adalah dengan metode Peer Group, yaitu metode pembelajaran melalui diskusi mengenai suatu masalah di mana setiap anggotanya merupakan teman sebaya. Desain penelitian menggunakan kuasi-eksperimental dengan rancangan pretest-posttest satu kelompok tanpa kelompok kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri di Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung, dengan sampel sebanyak 52 responden yang dipilih menggunakan teknik Stratified Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, dan analisis data menggunakan analisis univariat serta bivariat dengan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan sebelum intervensi, 29 responden memiliki pengetahuan kurang dan 28 responden memiliki sikap tidak mendukung; setelah intervensi, 35 responden memiliki pengetahuan cukup dan 39 responden memiliki sikap mendukung. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p < 0,05, yang berarti terdapat pengaruh signifikan dari pendidikan kesehatan dengan metode Peer Group terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai dhysmenorrhea.

Sebagian besar remaja putri di Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung setelah mendapatkan pendidikan kesehatan kelompok sebaya (Peer Group) menunjukkan sikap positif terhadap dhysmenorrhea.Terjadi peningkatan jumlah responden yang memiliki sikap positif setelah intervensi dilakukan.Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh signifikan dari pendidikan kesehatan dengan metode Peer Group terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai dhysmenorrhea.

Pertama, perlu dikaji lebih lanjut efektivitas metode Peer Group ketika dikombinasikan dengan media digital interaktif, seperti aplikasi mobile atau video edukasi, dalam meningkatkan pemahaman remaja putri tentang dhysmenorrhea di lingkungan pesantren. Kedua, penting untuk mengeksplorasi peran guru atau pembimbing sebagai fasilitator dalam kelompok sebaya, apakah kehadiran mereka dapat memperkuat akurasi informasi dan meningkatkan dampak pendidikan kesehatan jangka panjang. Ketiga, perlu dilakukan penelitian longitudinal untuk melihat apakah perubahan pengetahuan dan sikap yang terjadi setelah intervensi Peer Group bersifat tahan lama atau hanya bersifat sementara, serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi keberlanjutannya. Studi-studi ini dapat memberikan gambaran lebih komprehensif tentang optimalisasi pendekatan Peer Group dalam konteks pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja di lingkungan keagamaan. Selain itu, perlu dievaluasi perbedaan respons antar kelompok usia remaja dalam pesantren, mengingat variasi tingkat kematangan dan akses informasi. Penelitian juga dapat menguji model Peer Group lintas angkatan, di mana santri senior menjadi mentor bagi junior, untuk melihat efektivitas pembelajaran vertikal. Pemahaman mendalam terhadap dinamika kelompok sebaya dalam konteks sosial pesantren akan memperkaya strategi intervensi yang relevan dan berkelanjutan. Studi lanjutan sebaiknya melibatkan aspek perilaku nyata, bukan hanya pengetahuan dan sikap, untuk menilai dampak langsung pada tindakan pencegahan dan penanganan dhysmenorrhea. Analisis faktor penghambat partisipasi aktif dalam kelompok juga penting untuk diidentifikasi. Dengan demikian, penelitian berikutnya dapat merancang strategi yang lebih inklusif dan efektif dalam meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja putri.

  1. Pendidikan Kesehatan Kelompok Sebaya (Peer Group) Terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang... doi.org/10.30994/jqwh.v3i1.51Pendidikan Kesehatan Kelompok Sebaya Peer Group Terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang doi 10 30994 jqwh v3i1 51
Read online
File size446.88 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test