UNNESUNNES

Journal of Social and Industrial PsychologyJournal of Social and Industrial Psychology

Kecelakaan bus sering terjadi di Indonesia. Penyebab kecelakaan didominasi karena faktor human error, yang tercermin dalam perilaku berbahaya dalam mengemudikan bus. Dibutuhkan pengaturan perilaku para sopir bus dalam menjalankan pekerjaannya untuk menghindari perilaku yang membahayakan keselamatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Populasi penelitian ini adalah sopir bus yang berada di terminal Terboyo dan Mangkang Semarang, dengan sampel berjumlah 70 subyek. Teknik sampling yang digunakan adalah sampling insidental, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, siapa saja yang yang secara kebetulan atau insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang secara kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara self regulated behavior dengan unsafe behavior. Subyek mampu mengatur perilakunya saat bekerja, sehingga menghindari perilaku berbahaya. Diharapkan para sopir bus lebih menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai seorang pengemudi yang sangat mempengaruhi terjadinya kecelakaan atau keselamatan perjalanan.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara self regulated behavior dengan unsafe behavior pada sopir bus di kota Semarang.Hal ini berarti, semakin tinggi self regulated behavior maka semakin rendah unsafe behavior.Unsafe behavior pada sopir bus di kota Semarang berada pada kriteria rendah, yaitu sebesar 91,42%.Hal ini menunjukkan bahwa subyek mampu menghindari kesalahan tindakan yang tidak terencana, mampu menghindari kelupaan teknis, memiliki pengetahuan tentang keterampilan megemudi dan perawatan armada yang sangat memadai, mengikuti prosedur kerja yang sesuai dan mampu meminimalisir pelanggaran-pelanggaran ketika mengemudikan bus.Self regulated behavior pada sopir bus di kota Semarang berada pada kriteria tinggi, yaitu sebesar 65,71%.Hal ini menunjukkan bahwa subyek mampu mengatur perilakunya dengan baik, memiliki standar dan tujuan atas perilakunya, mampu mengatur emosinya, mampu memberikan instruksi atas tindakannya, mengevaluasi perilakunya, memonitor perilakunya, dan memberikan reinforsment atas perilakunya.

Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk membedakan sistem penggajian yang diikuti oleh sopir bus. Sistem penggajian setoran dan premi dapat mempengaruhi perbedaan karakteristik subyek karena perbedaan intensitas tuntutan pekerjaan. Selain itu, hindari aitem-aitem yang mengungkap perilaku mekanistik atau otomatis, karena perilaku tersebut sudah terinternalisasi pada subjek, sehingga mempengaruhi keberhasilan pengungkapan aspek yang diukur. Melakukan try out instrumen juga disarankan agar dapat meminimalisir kelemahan alat ukur.

Read online
File size479.28 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test