LENTERADUALENTERADUA

JNANALOKAJNANALOKA

Berdasarkan survei lapangan, sistem aquascape yang ada di pasaran saat ini memang sudah menarik, dengan berbagai koleksi tumbuhan dan ikan, namun salah satu permasalahan yaitu dalam pemeliharaan aquascape yang masih manual. Saat pemilik aquascape pergi dalam jangka waktu yang lama maka bagaimana menjaga kondisi penerangan dan kualitas air menjadi sebuah masalah tersendiri. Penggunaan sistem berbasis internet of things untuk melakukan pemantauan terhadap keadaan aquascape dari jarak jauh memungkinkan dilakukan. Sebuah prototipe yang dirancang untuk mengendalikan penerangan dan memantau kondisi air pada aquascape melalui web dilakukan dalam penelitian ini. Mikrokontroler Arduino dan NodeMCU serta sistem basis data Firebase digunakan dalam penelitian ini untuk membaca dan menyimpan data dari sensor yang digunakan. Dari hasil pengujian prototipe dalam melakukan pengendalian penerangan lampu pada aquascape sudah dapat bekerja sesuai yang diharapkan. Pemberian perintah kontrol terhadap lampu dilakukan dari jarak jauh melalui website berhasil sesuai dengan rencana pengujian. Hasil pengujian dari kinerja sensor pH dan sensor suhu juga bekerja sesuai yang diharapkan yaitu berhasil membaca nilai pH air dan kondisi suhu air. Data yang didapatkan juga telah mampu disimpan dalam basis data Firebase dan ditampilkan pada halaman web. Penelitian ini juga memberikan hasil berupa data waktu delay dari pembacaan sensor ke proses penulisan data di Firebase dan menampilkannya di halaman web. Nilai delay pada pembacaan dari prototipe ke website pada sensor pH yang didapatkan adalah rata-rata 31,77 detik dan sensor suhu dengan rata-rata delay 33,13 detik.

Prototipe alat pengendali dan penjadwalan pada aquascape mampu berfungsi dengan baik dalam mengendalikan lampu, membaca sensor suhu dan pH, serta menampilkan data melalui halaman web.Namun terdapat delay dalam proses pembacaan data dari sensor ke basis data Firebase dan penampilan di web, dengan rata-rata 31,77 detik untuk sensor pH dan 33,13 detik untuk sensor suhu.Delay tersebut kemungkinan disebabkan oleh penggunaan dua mikrokontroler, sehingga perlu penelitian lanjutan untuk mengatasi keterlambatan ini.

Pertama, perlu dikaji apakah penggunaan satu mikrokontroler saja cukup untuk membaca data sensor dan mengirimkannya ke Firebase, guna mengurangi delay akibat komunikasi antar dua mikrokontroler. Kedua, penting untuk mengevaluasi apakah penggunaan platform komputasi awan lain selain Firebase dapat mempercepat proses transmisi data dari perangkat ke web, sehingga tampilan informasi lebih real-time. Ketiga, perlu dikembangkan penelitian tentang integrasi protokol komunikasi yang lebih efisien seperti MQTT untuk menggantikan atau melengkapi metode HTTP saat ini, agar transmisi data antara NodeMCU dan server menjadi lebih cepat dan stabil, terutama dalam kondisi jaringan yang tidak stabil. Ketiga arah penelitian ini dapat membantu meningkatkan responsivitas sistem secara menyeluruh, tanpa harus mengubah desain dasar prototipe yang sudah ada. Dengan demikian, sistem pemantauan aquascape berbasis IoT dapat menjadi lebih andal dan praktis digunakan dalam pengelolaan jarak jauh. Studi tentang efisiensi energi mikrokontroler selama proses pengiriman data juga patut dipertimbangkan guna meningkatkan keberlanjutan sistem. Selain itu, pengujian stabilitas sistem dalam jangka waktu panjang dapat memberikan gambaran tentang keawetan dan kehandalan alat. Analisis beban kerja mikrokontroler saat komunikasi data dapat membuka peluang optimasi firmware. Dengan menggabungkan pendekatan teknis dan evaluasi sistem secara menyeluruh, pengembangan sistem serupa di masa depan dapat lebih terarah dan efektif.

Read online
File size1.42 MB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test