IWIIWI

jurnal widyaiswara indonesiajurnal widyaiswara indonesia

Pelayanan prima merupakan salah satu pilar utama dalam peningkatan mutu layanan kesehatan. Di era persaingan global dan meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas layanan, tenaga kesehatan dituntut tidak hanya memiliki kompetensi klinis, tetapi juga keterampilan dalam memberikan pelayanan yang humanis, cepat, tepat, dan responsif terhadap kebutuhan pasien. Untuk mencapai hal tersebut, berbagai institusi kesehatan telah menyelenggarakan pelatihan pelayanan prima bagi tenaga kesehatannya. Pelayanan prima berbasis soft skill menjadi aspek penting dalam meningkatkan pengalaman pelanggan, membangun kepercayaan, serta menciptakan lingkungan kerja yang harmonis di fasilitas kesehatan. Evaluasi pasca pelatihan dengan model Kirkpatrick level 3 dan 4 bertujuan untuk mengukur sejauh mana pelatihan telah memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas pelayanan, perubahan perilaku tenaga kesehatan, serta kepuasan pelanggan.

Berdasarkan hasil evaluasi pasca pelatihan pelayanan prima menggunakan pendekatan kualitatif pada Level 3 dan 4 model Kirkpatrick, dapat disimpulkan bahwa pelatihan telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas layanan di fasilitas kesehatan yang menjadi objek studi.Beberapa kesimpulan utama yang dapat ditarik antara lain.Pelatihan pelayanan prima telah meningkatkan mutu pelayanan, yang ditunjukkan dengan perubahan sikap tenaga kesehatan dalam memberikan layanan yang lebih cepat, ramah, dan empatik.Komponen pelayanan prima diantaranya adalah 5 A (Attitude, Attention, Action, Ability dan Appereance).Kelima komponen pelayanan itu adalah sikap, perhatian, tindakan, kemampuan dan penampilan selalu dilakukan oleh alumni dan ditingkatkan dalam pemberian layanan.Literasi digital yang sangat bermanfaat dalam pelayanan kesehatan diataranya adalah telemedicine, penggunaan teknologi dalam pelayanan, reka medis elektronik, keamanan data, dan pemanfaatn media sosial.Komunikasi efektif sangat dibutuhkan dalam memberikan layanan kesehatan, untuk itu alumni melakukan komunikasi dengan meningkatkan aspek-aspek yang dibutuhkan dalam melakukan komunikasi efektif yang baik sehingga peningkatan pelanggan puas.Penanganan komplain yang dilakukan menjadi lebih baik setelah pelatihan dengan adanya review dari pelanggan dan kurangnya keluhan dari pelanggan.Perubahan perilaku kerja tenaga kesehatan terlihat dalam bentuk peningkatan kerjasama tim, tanggung jawab, dan konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai pelayanan prima.Tantangan penerapan masih ditemukan, seperti keterbatasan tenaga, beban kerja tinggi, dan belum meratanya pelatihan ke seluruh staf, perbedaan pendapat, perbedaan karakter, dan lain lainnya.Pelatihan pelayanan prima dinilai efektif dalam memberikan dampak positif terhadap organisasi, khususnya pada mutu layanan dan persepsi pasien, sesuai dengan tujuan evaluasi level 4 Kirkpatrick.

Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi, berikut adalah saran-saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: Pertama, perluasan cakupan pelatihan pelayanan prima berbasis soft skill untuk mencakup seluruh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, baik di rumah sakit maupun puskesmas. Kedua, implementasi sistem monitoring dan supervisi pasca pelatihan secara berkala untuk menilai konsistensi penerapan pelayanan prima dan memberikan dukungan serta bimbingan kepada tenaga kesehatan. Ketiga, pengembangan pedoman pelayanan prima berbasis soft skill sebagai acuan kerja sehari-hari, yang mencakup standar operasional prosedur dan prinsip-prinsip pelayanan prima. Keempat, penguatan dukungan manajerial melalui penghargaan, promosi budaya kerja positif, serta penyediaan sarana dan waktu untuk refleksi hasil pelatihan. Kelima, koordinasi dengan pimpinan instansi pelayanan kesehatan untuk melakukan evaluasi dampak pelatihan secara berkala, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, guna menilai keberlanjutan dampak pelatihan dan melakukan perbaikan berkelanjutan. Keenam, pengembangan metode dan media pembelajaran yang lebih interaktif dan praktis, seperti penggunaan video contoh, role play, studi kasus, serta platform digital berbasis e-learning atau MOOC. Ketujuh, peningkatan kegiatan praktik lapangan, magang, dan in-house training dengan pelibatan langsung dari atasan untuk memperkuat penerapan soft skill dalam layanan sehari-hari. Kedelapan, tindak lanjut seperti coaching rutin, follow up, dan penyegaran peserta secara berkala untuk menjaga konsistensi penerapan soft skill di tempat kerja.

Read online
File size263.02 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test