USUUSU

LingPoet: Journal of Linguistics and Literary ResearchLingPoet: Journal of Linguistics and Literary Research

Penelitian ini membandingkan representasi hedonisme dan perubahan pemikiran karakter dalam film The Tinder Swindler (2022) dan The Great Gatsby (2013). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori hedonisme Epicurus (341-270 SM) sebagai dasar analisis. Penelitian menemukan bahwa dalam The Tinder Swindler, hedonisme digunakan sebagai alat manipulasi di era digital, sedangkan dalam The Great Gatsby, hedonisme merefleksikan pencarian kebahagiaan yang berakhir tragis. Karakter Simon Leviev tidak mengalami perubahan pemikiran, tetap memegang prinsip hidup hedonis meskipun tertangkap, sedangkan Jay Gatsby mengalami kesadaran bahwa kekayaan tidak dapat mengulang masa lalu. Perbandingan konteks sosial menunjukkan bahwa The Tinder Swindler merefleksikan budaya citra di media sosial, sedangkan The Great Gatsby merefleksikan kelebihan kapitalisme di era Roaring Twenties. Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa hedonisme berlebihan dapat menyebabkan kehancuran, baik di dunia modern maupun dalam konteks sejarah. Penelitian ini mengingatkan bahwa pencarian kebahagiaan melalui hal-hal materi sering berakhir dengan kekosongan. Sehingga, penelitian ini mengungkapkan bahwa tidak semua bentuk hedonisme mengarah pada kebahagiaan sejati, terutama jika didasarkan pada ilusi kekayaan dan citra sosial.

Simon Leviev dalam The Tinder Swindler dan Jay Gatsby dalam The Great Gatsby sama-sama mengejar kemewahan dan kebahagiaan melalui status materi dan sosial, tetapi pada akhirnya mereka menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai hanya melalui pencarian hedonis.Ironinya, meskipun keduanya mengejar kesenangan sesaat, mereka berakhir dengan kehancuran dan kerugian yang lebih besar.Hedonisme dalam kedua film menggambarkan obsesi terhadap kenikmatan duniawi.The Tinder Swindler menonjolkan manipulasi sosial dalam budaya modern, sedangkan The Great Gatsby mengeksplorasi mimpi romantis yang dibalut kemewahan.Simon Leviev adalah contoh individu yang tidak berubah, dengan hedonisme sebagai dasar moralitasnya.Kehidupannya adalah simbol konsumerisme ekstrem dan citra palsu.Jay Gatsby adalah figur tragis yang menyadari bahwa kekayaan tidak dapat memenuhi kebutuhan emosionalnya.Hedonismenya hanya menjadi alat untuk mengejar cinta, bukan tujuan akhir.Era modern dalam The Tinder Swindler menunjukkan bagaimana hedonisme didorong oleh teknologi dan media sosial, menciptakan citra palsu yang tampak sempurna tetapi rapuh.Era 1920-an dalam The Great Gatsby menggambarkan transisi dari nilai-nilai tradisional ke era modern yang glamor tetapi penuh kekosongan.Penelitian ini menunjukkan bahwa hedonisme, meskipun tampak menggoda, pada akhirnya tidak membawa kepuasan batin dan hanya mengarah pada kekosongan dan tragedi, baik dalam konteks sosial modern maupun dalam konteks sosial yang lebih tradisional seperti yang digambarkan dalam The Great Gatsby.Penelitian ini mengingatkan bahwa pencarian kebahagiaan melalui hal-hal materi sering berakhir dengan kekecewaan.Penelitian ini mengungkapkan bahwa tidak semua bentuk hedonisme mengarah pada kebahagiaan sejati, terutama jika didasarkan pada ilusi kekayaan dan citra sosial.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian ini, berikut adalah saran penelitian lanjutan:. . 1. Melakukan studi komparatif yang lebih mendalam antara hedonisme dalam The Tinder Swindler dan The Great Gatsby, dengan fokus pada aspek-aspek seperti motivasi karakter, dampak sosial, dan konsekuensi moral dari tindakan mereka. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana hedonisme yang berbeda dalam kedua film merefleksikan nilai-nilai dan budaya pada masa masing-masing.. . 2. Menganalisis pengaruh media sosial dan teknologi dalam memfasilitasi hedonisme modern, seperti yang terlihat dalam The Tinder Swindler. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana media sosial menjadi platform untuk menampilkan citra diri yang ideal dan bagaimana hal ini mempengaruhi perilaku konsumtif dan manipulatif.. . 3. Memeriksa bagaimana hedonisme yang berlebihan dapat menyebabkan kehancuran dan kerugian, baik dalam konteks modern maupun sejarah. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana hedonisme yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan pada individu dan masyarakat, serta bagaimana hal ini merefleksikan tantangan moral dan etika dalam mencari kebahagiaan.

  1. Finch’s Conflicts and Personality Analysis as the Main Character Portrayed in All The Bright Places... e-journal.unmas.ac.id/index.php/elysian/article/view/3591FinchAos Conflicts and Personality Analysis as the Main Character Portrayed in All The Bright Places e journal unmas ac index php elysian article view 3591
  2. Jazz music: From black pride to political consciousness to social change in the United States | Journal... doi.org/10.59400/jps.v2i1.1426Jazz music From black pride to political consciousness to social change in the United States Journal doi 10 59400 jps v2i1 1426
Read online
File size300.92 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test