DINUSDINUS

ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & MultimediaANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia

Budaya Cina peranakan merupakan hasil dari proses akulturasi beberapa budaya. Oleh karena itu, budaya ini sangat menarik untuk dikaji. Paper ini mencoba mengkaji dengan metode studi literatur latar belakang sejarah dan keunikan budaya Cina peranakan pada budaya makan mulai dari etiket, menu dan peralatan makan. Dari hasil studi ditemukan bahwa walaupun Cina Peranakan terbentuk dari proses akulturasi budaya Jawa, Cina dan Belanda tetapi dalam hal budaya makan, budaya Cina masih mendominasi terutama dalam etiket dan peralatan makan, karena bagi orang Cina makan dipandang sebagai pemersatu keluarga. Akulturasi terjadi pada menu makanan ada unsur bercampur dengan bahan yang tersedia di Indonesia, hal ini terjadi pada lumpia Semarang yang terkenal dengan lumpia berisi rebung sesuai dengan bahan yang tersedia di Semarang.

Budaya Cina Peranakan merupakan hasil transformasi dinamis dari akulturasi budaya Cina, Eropa, dan lokal, utamanya Jawa, dengan dominasi budaya Cina yang masih terlihat jelas dalam praktik makan.Identitas multikultural ini menjadikan Baba dan Nyonya adaptif terhadap berbagai lingkungan dan terbuka terhadap dunia luar, meskipun terkadang dianggap kehilangan jati diri, mereka justru melihatnya sebagai keunikan.Kekayaan budaya ini juga tercermin dalam seni memasak mereka yang inovatif, penggunaan warna yang selektif, dan beragamnya cara makan, sekaligus mempertahankan nilai-nilai penghormatan leluhur, yang pada akhirnya menegaskan peran integral mereka dalam kebinekaan masyarakat Indonesia.

Studi ini telah memberikan landasan kuat mengenai akulturasi budaya dalam konteks makan Cina Peranakan di Jawa melalui pendekatan literatur. Untuk memperkaya pemahaman, penelitian lanjutan dapat memperluas cakupan geografisnya dengan menyelidiki bagaimana dinamika akulturasi budaya makan Cina Peranakan berkembang di wilayah lain di Indonesia, seperti Sumatera Utara atau Kalimantan Barat, yang mungkin memiliki interaksi budaya lokal dan kolonial yang berbeda; apakah terdapat perbedaan signifikan dalam adaptasi menu, etiket, atau penggunaan peralatan makan yang mencerminkan kekhasan daerah setempat. Penelitian ini dapat mengadopsi pendekatan etnografi dan wawancara mendalam untuk menangkap nuansa lokal yang mungkin tidak terjangkau oleh studi literatur. Selanjutnya, dalam menghadapi era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, menarik untuk menelaah bagaimana budaya makan Cina Peranakan berinteraksi dengan tren kuliner modern dan paparan media sosial. Apakah generasi muda Peranakan masih mempertahankan tradisi makan leluhur mereka, ataukah ada pergeseran preferensi dan kebiasaan yang dipengaruhi oleh budaya populer global; studi ini bisa melibatkan analisis konten media sosial atau survei tentang konsumsi makanan dan identitas budaya di kalangan generasi Peranakan kontemporer. Terakhir, mengingat temuan bahwa budaya Cina tetap dominan dalam etiket dan peralatan makan, penelitian dapat menggali lebih dalam alasan di balik persistensi ini. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan resistensi terhadap akulturasi pada level perilaku dan benda fisik dibandingkan dengan fleksibilitas pada level menu; studi ini dapat menyelidiki peran memori kolektif, identitas warisan, atau praktik ritual yang mungkin mengikat kuat elemen-elemen tersebut pada akar budaya Cina, melalui analisis semiotik atau studi kasus pada keluarga Peranakan tertentu.

Read online
File size777.01 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test