INTANINTAN

INTAN Jurnal Penelitian TambangINTAN Jurnal Penelitian Tambang

Alterasi propilitik menghasilkan asosiasi mineral seperti klorit, epidot, dan kalsit yang umum ditemukan pada endapan tembaga-emas porfiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami suhu pembentukan, fuga oksigen, dan fuga sulfur klorit, yang merupakan mineral utama dalam alterasi propilitik, dengan menggunakan metode eksperimen kualitatif dan kuantitatif. Kondisi pembentukan alterasi propilitik dianalisis secara terperinci menggunakan superprobe (JXA-iSP100) dan Analisis Mikroprobe Elektron (EPMA) pada tegangan 15,0 kV. Komposisi klorit relatif homogen dan diklasifikasikan sebagai klorit kaya Mg (Tipe-I) berdasarkan diagram AlIV-Mg-Fe, serta ripidolit berdasarkan rasio Si vs Fe/(Fe Mg). Geotermometer klorit menunjukkan rentang suhu kristalisasi antara 288,30 hingga 332,82°C. Fuga oksigen dan sulfur klorit tergolong rendah, dengan nilai log fO2 berkisar antara -70,4 hingga -51,85 dan log fS2 antara -32,55 hingga -20,65. Analisis mengidentifikasi mineral sebagai epidot sejati, dengan variasi spasial yang menunjukkan besi dalam bentuk Fe³⁺ dan mangan sebagai Mn²⁺. Proporsi mol unsur utama (Mg, Ca, Fe, Mn) menunjukkan bahwa kalsit hadir dalam sistem hidrotermal.

Sebagian besar sampel dalam sayatan tipis yang mengandung kuarsa-serisit-pirit menunjukkan alterasi filik, sedangkan sampel yang didominasi klorit, kalsit, dan epidot menunjukkan zona alterasi propilitik.Mineral alterasi propilitik diklasifikasikan sebagai klorit tipe-I (ripidolit), epidot sejati, dan kalsit hidrotermal berdasarkan komposisi kimianya.Klorit mengkristal pada suhu sedang, yaitu 288,3 hingga 332,82°C berdasarkan geotermometer Cathelineau (1988) yang menggunakan kandungan AlIV, dengan kondisi pembentukan yang mengindikasikan lingkungan reduksi hidrotermal akibat fuga oksigen dan sulfur yang rendah.

Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki evolusi fluida hidrotermal selama tahap pembentukan alterasi propilitik dengan menganalisis inklusi fluida pada mineral kuarsa dan klorit, guna memahami perubahan suhu, tekanan, dan komposisi fluida secara temporal. Kedua, penting untuk mengevaluasi variasi spasial dan temporal komposisi kimia mineral epidot dan kalsit di seluruh zona alterasi, untuk mengungkap hubungan antara perubahan redoks fluida dan pengendapan mineral, serta implikasinya terhadap potensi mineralisasi logam mulia. Ketiga, diperlukan studi terintegrasi menggunakan pemodelan termobarometrik dan analisis isotop stabil (seperti δ¹⁸O dan δ¹³C pada kalsit) untuk membatasi sumber fluida dan proses pencampuran fluida magmatik dengan fluida meteorik, sehingga dapat memberikan kerangka dinamika sistem hidrotermal yang lebih lengkap di Tujuh Bukit.

  1. A MINERALOGY AND CHLORITE CHEMISTRY CONSTRAINTS ON THE FORMATION CONDITION OF PROPYLITIC ALTERATION IN... doi.org/10.56139/intan.v8i2.314A MINERALOGY AND CHLORITE CHEMISTRY CONSTRAINTS ON THE FORMATION CONDITION OF PROPYLITIC ALTERATION IN doi 10 56139 intan v8i2 314
Read online
File size1.49 MB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test